Selamat Datang | Muyasaroh Notes | Bersama Saling Berbagi dan Menjadi Pembelajar yang Hebat Muyasaroh Note: edukasi
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2018

Delegasi Relawan dari Forum Lingkar Pena (FLP)

#Part1 Relawan Pembelajar

Ada sebuah nasihat yang bisa menjadikan kita terus bersemangat untuk merayu cinta-Nya. Karena penulis seorang muslimah, maka nasihat yang ampuh dalam mengarungi kehidupan adalah berpedoman pada Kitab Alquran dan As-sunnah Nabi. Bukan maksud menggurui, tapi kita sama-sama belajar di sini. Tentang lima hal yang akan dipertanggung jawabkan dalam hidup ini. Tentang umur untuk apa digunakan, kemudian tentang masa muda yang habis untuk apa, lalu dari mana harta yang diperoleh dan kemana dibelanjakannya, terakhir tentang amalan pada ilmu yang diketahui.

Salam pembuka dari penulis yang terus berusaha menjadi pembelajar yang baik kemana pun penulis berguru dalam bangku kehidupan ini. Ada sebuah perjalanan yang telah dilakukan oleh penulis dari kota metropolitan pertama, kembali ke kota Pahlawan, kemudian berlanjut ke suatu kota yang dikenal dengan motonya sebagai kota Sanggam dibelahan pulau Kalimantan, hingga berakhir di salah satu pulau yang sedang hangat diperbincangkan untuk bangkit kembali dari bencana alam yang menguji seisinya, Lombok, NTB.

Rentetan petualangan hidup yang dilakukan oleh penulis. Satu yang paling berkesan. Perjalanan ini memang diluar profesi yang setiap hari digeluti. Waktu libur yang lama dari tempat kerja memberikan peluang penulis untuk mencurahkan panggilan hati yang tertahan berbulan-bulan lamanya. Sebab waktu dan kesempatan yang belum bersahabat. Keputusan pergi untuk menjadi salah satu relawan bencana gempa bumi di Lombok, memberikan pembelajaran dan hikmah tersendiri bagi penulis.

Dari pemberangkatan yang sedikit berdrama. Kepulangan dari kota Berau (yang dikenal juga dengan kota Sanggam, Kalimantan Timur) menuju Surabaya. Serasa hanya singgah sebentar untuk berganti koper menjadi carier, tidur dan say something kepada keluarga kemudian berangkat lagi. Padahal, bisa dikatakan naluri rindu seorang perempuan kepada Ibu, Bapak, Nenek, Adik dan Kakak masih membuncah di ubun-ubun setelah kepergian yang lama meninggalkan Jawa. Tapi, hati ini memanggil untuk pergi dan restu keluarga pun telah disetujui. Pun dengan senang hati mereka melepas kepergian. Bisa dikatakan ini adalah bonus perizinan setelah diforsir proyek Berau, kemudian melakukan liburan aksi  sosial berpahala.

LAZNAS BSM, Bank Syariah Mandiri, BSM, FLP, Forum Lingkar Pena, FLP SBY, Bencana Lombok, Gempa Bumi Lombok, relawan, delegasi, belajar, pembelajar, penulis, kepenulisan, muyasaroh, ITS, NTB, Lombok, Trauma Healing, Stress
Delegasi Relawan FLP dan LAZNAS BSM
(Doc.Pribadi)
Kegiatan bersosial memang selalu menjadi obat kala suntuk. Apalagi menemukan teman baru dari berbagai kalangan, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang sekaligus belajar bersama akan menghempas yang namanya lelah serta suntuk. Nah, bagi pembaca yang sudah mulai merasakan tulisan ini bertele-tele, belum masuk pada intinya. Sabaaarrr. Karena sesungguhnya, penulis sedang menata kata yang akan dikeluarkan dalam tulisan ini untuk memulainya.

Penulis Aktif di salah satu organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia yang cabangnya tidak hanya di dalam negeri, tapi sudah meraja rela keluar negeri. Dikenalnya dengan nama Forum Lingkar Pena (FLP). Seperti diketahui bersama, bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok, NTB berturut-turut mulai dari gempa bermagnito 6,4 Skala Richter pada kamis (29/7). Hingga bermagnito sebesar 7 skala richter pada minggu (05/8) malam berpusat di lombok bagian timur sekitar pukul 18.45 WIB, ditambah dengan deteksi BMKG yang berpotensi tsunami. Kemudian disusul dengan gempa yang bermagnito 5,6 Skala Richter dengan pusat gempa di area Lombok bagian utara pada pukul 19.49 WIB. Dan gempa selanjutnya bermagnito 5 Skala Richter dibagian Barat laut Lombok Utara pada pukul 20.07 WIB. Membuat semua warganya panik ketakutan dan berhamburan berlarian mencari perlindungan. Bencana alam yang terjadi di Indonesia kali ini membuat seluruh warga Indonesia bersatu memberikan berbagai macam dukungan untuk membangkitkan dan membangun semangat kembali pada salah satu belahan tanah air yang sedang diuji. Termasuk dengan dukungan FLP yang berkolaborasi dengan salah satu Lembaga Zakat Nasional Bank Syariah Mandiri (LAZNAS BSM) turut andil melakukan berbagai bentuk kepeduliannya untuk bencana gempa bumi ini. Salah satunya adalah bentuk Trauma Healing bagi warga dan khususnya bagi anak-anak Lombok.

Lagi, sebelum penulis memulai cerita dari petualangan hidup kali ini. Penulis akan menjelaskan sekaligus memperbaiki persepsi yang sering disalah kaprahkan banyak orang, tentang Trauma Healing. Bagi pembaca yang merasa tidak perlu tahu alias mungkin sudah tahu, penulis rela dicukupkan untuk membaca kunjungan postingan kali ini. Sebab penulis pun mendapatkan ilmu baru ini selama menjadi relawan di Lombok.

Oke, kepergian penulis untuk terjun menjadi relawan bencana kali ini adalah berfokus pada program Trauma Healing yang dilakukan oleh FLP dan LAZNAS BSM. Dari pihak FLP mempercayakan pendelegasian untuk program ini kepada beberapa orang yang memiliki beberapa kriteria yang diberikan. Bersyukur salah satu orang yang berkesempatan mendapatkan panggilan tersebut adalah penulis. Pencarian ilmu dan wawasan tentang trauma healing yang sebelumnya penulis maksud ternyata ada kesalahan di sini. Apa itu? Mari kita belajar bersama dan saling mengoreksi.

Sebenarnya, Trauma Healing yang dimaksud dalam kondisi seseorang pasca mengalami bencana dilakukan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya seperti psikiater ataupun sikolog. Dengan cara dan metode yang mendalam. Idendifikasi dan pemeriksaan secara khusus. Seseorang dikatakan trauma dan memerlukan healing akan diketahui pasca kejadian bencana yang dialami telah berlalu lama. Ia akan mengalami berbagai hal yang membuat seseorang mengalami trauma bereaksi secara berlebihan. Bahkan bisa mengganggu aktifitasnya. Seperti sering bermimpi gempa, sedikit ada sesuatu yang bergoyang ia akan bereaksi berlebihan, ada suatu kekhawatiran atau ketakutan yang berlebihan. Dan ini jika tidak ditangani oleh psikiater atau sikolog ataupun terapis yang ahli dibidangnya, akan menjadi kesalahan yang fatal pada proses penyembuhannya.

Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan yang disebut dengan Trauma Healing pada proses pemulihan pasca gempa yang dilakukan oleh penulis bukanlah yang telah penulis uraikan diparagraf sebelumnya. Melainkan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembalikan keberanian, kecerian, ketenangan, dan semangat melalui berbagai macam kegiatan yang telah dirancang, diusulkan, dimodifikasi dan diidekan dari arahan sebelumnya kemudian diaplikasikan kepada warga dan anak-anak terdampak bencana. Kegiatan ini seharusnya bukanlah bentuk Trauma Healing, akan tetapi salah satu kegiatan Stress Healing. Namun sayang, sebutan Trauma Healing lebih dikenal, melekat dan booming terlebih dahulu dari pada Stress Healing.

Kondisi ketakutan dan masih adanya khawatir pasca gempa atau mengalami suatu kejadian merupakan hal wajar yang dialami. Dan untuk memulihkannya kembali dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan Stress Healing yang menyenangkan dan bersemangat. Akan tetapi jika hal ini berlanjut sampai lamanya tak hingga pasca kejadian, maka dari itu diperlukan penanganan khusus berupa Trauma Healing tersebut.  Jadi, bagaimana pendapat pembaca dengan penggunaan istilah Trauma Healing atau Stress Healing ini? Lebih tepat dan benar mana penggunaannya? Yuk, kita belajar bareng, sembari penulis akan berlanjut pada penyajian petualangan selanjutnya. Sabar ya.. Selamat membaca. ^ ^




Read More »

Rabu, 28 Maret 2018

Benarkah untuk Mengabdi?

Ada sebuah pemikiran yang sejak dulu ingin dibagikan. Dan akhirnya, penulis sedang memprosesnya melalui sebuah buku yang sedang diikhtiarkan untuk segera terbit. Mohon doanya ya. Ini tentang pemuda, generasi bangsa, penggerak peradaban, yang ditangannya terpenuhi dengan asa yang luar biasa, penggenggam dunia untuk lebih baik dan intinya tentang kader masa depan. Berbicara soal pemuda, ada rasa yang menggebu di hati. Apalagi kalau bahasannya yang berembel-embel pengabdian. Kenapa itu? Yuk duduk bareng, tuntaskan coretan dari penulis ini. Dan kita saling sharing ya… Di sini dilarang gontok-gontokan tapi boleh membenarkan atau beropini sesuai sudut pandang masing-masing agar penulis pun bisa belajar bersama.

Suatu ketika penulis pernah melakukan suatu diskusi bersama seorang pemuda yang luar biasa. Tidak perlu diceritan siapa dia, pokoknya luar biasa. Bahasannya seperti yang dituliskan diatas ya, tentang pemuda. Pemuda yang dibahas di sini adalah tentang pemuda yang merindukan kekonsistenan akan sebuah cinta. Perjuangan akan sebuah kesadaran akan peletakan rasa rindu. Cinta dan rindu yang seperti apa? Selesaikan dulu sebelum dicukupkan.

Pemuda, negeri, ekspedisi nusantara jaya, enj, rintara jatim, rintara jaya jawa timur, pulau terpencil, kemenko maritim, pengabdian, sosial, mengabdi untuk negeri, leadership, delegasi, karya, masalembu, masakambing, program, ENJ
Pulau Masalembu (Doc. Pribadi)
Pembaca pernah bersua bersama penulis di sepucuk suratnya yang pernah tertuang disini? Baca dulu ini (Bagaimana Kabarmu, Negeri?). Salah satu petualangan yang pernah dicoba oleh penulis untuk menjajaki buminya Sang Maha Pemilik adalah pulau terpencil yang ada di laut lepas Jawa bagian ujung pulau Madura di Sumenep dan lebih ke Kalimantan dengan letak pulau yang nyempil, kecil, dan hampir tak terjamah. Padahal ada kehidupan dan potensi alam luar biasa di sana. Masalembu dan Masakambing dua dari berbanyak pulau terpencil yang diketahui oleh penulis dan pernah di meletakkan kakinya di pulau tersebut. Dalam setiap perjalanan pastikan akan banyak cerita dan ilmu yang didapat per setiap alurnya. Jangan biarkan untuk merugi dengan hanya membawa sedikit cerita atau sedikit sekali pengalaman. Usahakan membawa buah tangan yang lebih banyak dari teman seperjalanan atau rombongan. Bagaimana caranya? Pembaca yang bisa menentukannya asal dilarang MALAS. Jadilah yang terbeda dengan keberanian yang luar biasa jika berkeinginan mengetahui dan mendapatkan buah tangan berbeda untuk berilmu serta jauh lebih paham agar bisa melihat dunia dengan lebih baik.

Pemuda, negeri, ekspedisi nusantara jaya, enj, rintara jatim, rintara jaya jawa timur, pulau terpencil, kemenko maritim, pengabdian, sosial, mengabdi untuk negeri, leadership, delegasi, karya, masalembu, masakambing, program, ENJ
Dermaga Pulau Masalembu (Doc. Pribadi)
Dilanjut ya, penulis pernah terlibat dalam satu program pendelegasian pemuda oleh KEMENKO maritim ke pulau-pulau terpencil di Ekspedisi Nusantara Jaya Perintis Jawa Timur yang akhirnya mengantarkan penulis terlibat dalam Rintara Jaya Jawa Timur. Ingin sekali membedah satu program tersebut. Sebab geramnya penulis. Tapi untuk detailnya, dilain kesempatan saja. Bukan hal bedah membedah itu yang ingin disampaikan penulis di sini. Tapi sebuah pemikiran. Ingat sekali lagi, sesuai dengan rujuan tulisan diawal. Penulis ingin berbagi, boleh sharing jika perlu disharingkan. Biar sama-sama menambah wawasan dan berilmu.

Memang benar, pemuda banyak sekali ide-idenya, keinginannya dan impian lainnya. Sebab penulis pun demikian. Tapi yang seperti apa dulu ide dan keinginnannya? Dipikirkan dengan segala pertimbangannya. Dewasa ini, gencar-gencarnya program dari si A, si B, C, D dan sebagainya dengan bau-bau mengabdi untuk negeri, berbagi untuk sesama, dan sejenisnya yang dilakukan di berbagai daerah, khususnya untuk daerah-daerah tertinggal atau pulau terluar. Yang akhirnya, banyak pemuda yang berbondong-bondong menggandrunginya dengan berbagai macam motivasi, alasan, sebab dan tetek bengek lainnya yang dibuat sedemikian rupa bagusnya untuk meyakinkan sang penyeleksi atau penyelenggara agar bisa mengikuti program yang diselenggarakan.

Ini rahasia umum sebenarnya, orang yang sekiranya berpotensi, kualitas bagus dan dengan tulus akan dinilai dari berbagai macam sisi hingga akhirnya ia yang terpilih untuk menjalankan program. Menjalankan dan menyukseskan setiap langkah dari programnya. Kemudian, dengan adanya program tersebut pastinya ada harapan yang tersimpan oleh penyelenggara untuk memahami arti yang sebenar-benarnya tagline atau hastag atau apalah yang mereka buat untuk menarik peminat atau pembaca untuk terlibat dalam program yang dimaksud. Tapi kadang, ada renungan disini. Benarkah program yang dijalankan telah sukses dan terjalankan dengan baik? Dan tagline yang dibuat, dituliskan, digemborkan, telah terpahamkan dibenak para pemuda yang terpilih itu? Jawabannya ada pada hati pembaca. Sebab, banyak diluar sana dengan program-program yang serupa hanya menghasilkan dan mengetahui alumni dari si A, si B, atau apalah yang ujungnya hanya untuk sekadar mengumpulkan orang-orang yang berpotensi dan kemudian lupa dengan yang diperjuangkan di tempat pengabdiannya. Atau bukan dibilang lupa, tapi program yang dijalankan hanya sebagai pencitraan belaka untuk mengangkat namanya, atau pun memenuhi curriculum vitae bahwa pernah melakukan hal tersebut.

Seribu banding satu sebenarnya pemuda yang tersaring dari program-program serupa dari tahun-ketahun yang terbukti dengan tulus memahami arti dari hastag atau pun tagline yang dibuat. Karena sejatinya, menurut penulis arti dari semua tagline dan apapun program yang diidekan, dibuat, dan dijalankan. Hal yang terpenting adalah keberlanjutan dari itu semua yang bisa dikatakan bahwa paham atau tidaknya pemuda pilihan tersebut. Bagi penulis, terserah apapun nama media yang menjalankan ide-ide dari pemudanya yang terpenting adalah hati untuk melakukan dan mewujudkan keberlanjutan dari adanya program kerja atau kegiatan yang dibuat. Sebab segala sesuatu yang dilakukan letak poin terberat dan perhatian adalah keberlanjutan dan istiqomahnya. Agar arti dari semua tagline yang dibuat paham dengan pemahaman yang berbeda untuk masyarakat yang dibilang cinta dan merindukan kejayaan negeri ini. Bukan hanya sekadar ikut-ikutan dan menjalankan jobdesk, menambah teman, dan berpengalaman. Bagaimana untuk pembuktiannya agar bisa dikatakan pemuda yang berbeda dan paham menurut penulis? Caranya ada pada diri pembaca sendiri dengan berlandaskan ilmu, keyakinan dan pengajaran agama, serta kepemahaman dari pembaca pula.

Lagi, sebagai penutup dari penulis. Hanya ingin berbagi dan berpendapat, sharing serta mencari ilmu pula dari pembaca yang paham akan makna dari mengabdi yang dimaksud penulis disini atau mengajak berkolaborasi bersama. Selamat berkarya dan tetap semangat. Yuk kenali penulis dari berbagai media baik social media ataupun email. Salam pena ^ ^
Read More »

Minggu, 03 September 2017

Azam untuk Belajar Menjadi Mawapres

apresiasi seleksi 
Pemuda Masa Depan Bangsa (Dok. Pribadi)

Ketika hati telah berazam. Tugas penting bagi kita adalah istiqomah mewujudkannya. Siap dengan segala apa yang terjadi dalam perjuangannya. Resiko seberat apapun, siap untuk dihadapi. Berbicara soal hasil, biarkan Sang Maha Pengatur yang memberikan keputusannya.

Ini adalah satu rangkaian dari beberapa kalimat sebagai pengantar tulisan ini. Saya mencoba menuangkan sebuah cerita yang seharusnya saya bagikan. Biarkan ia terbaca oleh setiap orang yang ingin mengetahui dan mengambil hikmah dari secuil perjalanan hidup ini. Untuk menyimpulkan sendiri bagaimana bentuk dan memahami azam itu sendiri.

Suatu saat seorang teman mengajukan nama saya untuk masuk dalam salah satu kandidat pemilihan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) untuk tingkat jurusan di salah satu perguruan tinggi negeri Surabaya. Entah kenapa, nama saya yang tiba-tiba dimunculkan. Banyak dukungan yang saya dapatkan saat itu. Baik dosen, teman, organisasi maupun keluarga. Ini satu alasan kuat bagi saya mengiyakan untuk maju sebagai kandidat. Berproses didalamnya. Dengan segala bentuk rangkaian kegiatannya.

Tahap awal, segala persyaratan, berkas, karya tulis dan sebagainya saya persiapkan. Hingga tiga nama terpilih untuk mempresentasikan karya dan inovasinya. Presentasi terbuka dengan tiga orang juri dari dosen yang terkenal super dalam penelitian berikut background-background yang super lainnya. Siap menilai, mengkritisi, dan membedah karya tulis. Diluar penilaian dari aspek lainnya terkait kemampuan tiap calon kandidat.

Tak pernah terbayangkan, dengan berbagai proses saya terpilih maju untuk mewakili jurusan ke proses selanjutnya hingga tingkat universitas. Artinya, akan ada kejutan-kejutan lain yang mengasah kemampuan saya ke level yang lebih tinggi. Butuh keyakinan kuat dalam diri yang saya rasakan dalam segala bentuk perjuangan untuk bertahan selama proses pemilihannya sepanjang tahun 2015 hingga puncak sebelum ke tingkat Nasional. Menyeimbangkan segala bentuk proses pemilihan dengan project-project saya lainnya, akademik, aktifitas organisasi, keluarga dan sosial. Sebuah tantangan dan perjuangan tersendiri bagi saya. Sungguh luar biasa.

Tibalah, proses di tingkat universitas dari tiga kandidat yang terpilih untuk menentukan satu kandidat saja untuk pemilihan ke tingkat nasional. Mulai dari psikotes, presentasi karya tulis, tes bahasa inggris, FGD, verifikasi kemampuan, penghargaan, dan prestasi. Saya hanya pasrah, lillahita'alah dengan segala bentuk prosesnya. Apalagi hasil dari segalanya. Hingga pengumuman terpilihnya satu mahasiswa yang akan mewakili ke tingkat nasional diumumkan beberapa minggu setelahnya. Walau saya terpilih sebagai mahasiswa berprestasi kedua. Ada rasa bahagia tersendiri tanpa adanya rasa kecewa. Justru saya turut mendukung dengan perjuangan teman saya ke tingkat selanjutnya.

Banyak rasa, bukan sekadar rasa biasa. Banyak keinginan dan harapan , bukan sekadar keinginan dan harapan biasa. Banyak perjuangan, bukan sekadar perjuangan biasa. Bukan sebuah pengakuan dan penghargaan yang dicari namun, kebermanfaatan diri kita untuk mewujudkan cita-cita bangsa untuk lebih baik lagi. Hambar rasanya jika apa yang dilakukan oleh kita hanya untuk memenuhi ambisius diri sendiri bukan untuk yang lebih besar dari itu. Di luar sana banyak yang menanti kebermanfaatan dalam diri kita dengan berbagai cara dalam segala bentuk permasalahan dan media lainnya. Terakhir dari tulisan ini. Ajakan untuk tetap berkarya, semangat dan selamat berproses ^ ^

Read More »

Kamis, 01 Juni 2017

Gong Perdamaian Nusantara Palu

Urek-urek berlanjut kembali. Rasanya ada beban moral jika tulisan itu tidak dikhatamkan. Tempo hari saya mengulas sebuah cerita yang saya jejakkan di sini [baca: Palu dengan Taman Edukasi Nosarara Nosabatutu]. Perjalanan ini belum berakhir, masih berkutat dengan Taman Edukasi. Setelah Nosarara Nosabatutu, saya hengkang dari tempat tersebut. Bergeser ke satu tempat yang harus saya kepoin.

Panasnya Palu, saya tepis untuk menuju sebuah gong. Disebutnya Gong Perdamaian yang disimbolkan sebagai perdamaian nusantara. Adanya simbol perdamaian di salah satu ibu kota povinsi Sulawesi Tengah, mungkin sudah tidak asing lagi alasannya. Di provinsi ini memang sering diberitakan adanya konflik. Konflik yang memicu peperangan antar sesama. Nah, sebab alasan itulah gong ini didirikan untuk mempererat tali persaudaraan dan perdamaian dari segala ricuh yang mengandung konflik. Baik konflik antar agama, ras, budaya, suku bahkan adanya teroris.

budaya, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, May Khakasa, monumen, Nusantara, Palu, penulis, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, traveling, writer, provinsi, simbol, nusantara, lambang, indonesia, seni, kearifan, patung, indah, pemandangan, wisata, wisata alam, touring
Gong Perdamaian Palu (Dok. Pribadi)

Sangking pentingnya gong ini, hingga menuju tempatnya pun harus melepas alas kaki. Setelah melewati beberapa anak tangga, barulah saya bisa dikatakan benar-benar berdekatan dengan gong ini. Telihat pada gongnya ada satu lingkaran yang paling dalam dan kecil. Bentuknya menonjol ke depan dengan gambar peta NKRI. Lingkaran kedua terdapat lima simbol agama yang ada di Indonesia. Diluar simbol tersebut ada sebuah tulisan “Gong Perdamaian Nusantara, Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Bangsa”. Kemudian terdapat 33 simbol provinsi dan sekitar ratusan simbol daerah dari berbagai kota dan kabupaten di Indonesia.

Sudah puas mengamati sekaligus berfoto gembira di area gong, dari tempat saya berdiri tepat  di depan gong saya melihat kota Palu beserta pegunungan dan lautnya sejauh mata memandang. Lagi-lagi, indra penglihatan saya dimanjakan oleh indahnya Indonesia. Saat saya tengok ke arah bawah tepat saya berdiri ada sebuah patung. Patung seorang wanita dengan membawa sebuah kendi yang berisikan air. Katanya, patung tersebut dilambangkan sebagai ibu pertiwi yang selalu menyirami kesuburan tanah air. Sama halnya juga dengan sebuah patung di sisi lain yang terlihat membawakan sebuah alat musik tradisional yang katanya pun dilambangkan sebagai seninya Indonesia. Wah... sungguh indah bukan main patung-patung dan hiasan ditempat ini yang ternyata dalam setiap sisinya mengandung sebuah makna. Makna yang harus kita pahami. Dihormati dalam keadaanya. Dan dijalani dalam setiap artiannya. Alangkah indah benar, jika makna dari bentuk setiap perlambangan dan patungnya benar-benar ada untuk diaplikasikan dalam kehidupan yang sesunggunya. Agar tidak hanya menjadi lambang-lambang yang sejatinya ia berkata namun tak berdaya untuk digerakkan dan diwujudkan.


budaya, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, May Khakasa, monumen, Nusantara, Palu, penulis, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, traveling, writer, provinsi, simbol, nusantara, lambang, indonesia, seni, kearifan, patung, indah, pemandangan, wisata, wisata alam, touring
Gong Perdamaian (Dok. Pribadi)

budaya, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, May Khakasa, monumen, Nusantara, Palu, penulis, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, traveling, writer, provinsi, simbol, nusantara, lambang, indonesia, seni, kearifan, patung, indah, pemandangan, wisata, wisata alam, touring
Di depan Gong Perdaaian (Dok. Pribadi)


Read More »

Sabtu, 27 Mei 2017

Palu dengan Taman Edukasi Nosarara Nosabatutu

Provinsi yang satu ini memang panas. Letaknya yang termasuk nol derajat dari garis khaltulistiwa membuatnya menyengat. Nah, kali ini saya ingin menuliskan satu tempat yang sempat saya singgahi ditengah-tengah riuhnya aktifitas di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Terik matahari di kota ini memang tinggi, ditambah pula kondisi tanah yang lebih banyak berpasir dan liat. Sejenis tanah alluvial yang memiliki unsur zat hara yang sedikit menambah hawa sumer kata orang jawa. Walau demikian, tempat ini indah. Seperti taman edukasi Nosarara Nosabatutu yang saya kunjungi. Tempatnya agak sedikit naik ke perbukitan. Sejauh mata memandang dari atas perbukitannya, kota palu terlihat dengan jelas bersama pegunungan dan lautnya yang sungguh memanjakan mata. Indonesia memang luar biasa kerennya.

bukit, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, May Khakasa, monumen, nosarara nosabatutu, notes, Palu, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, taman, traveling, nosarara nosabatutu, palu, wisata, gong, liburan, taman, bukit, brigadir
Nosarara Nosabatutu (Dok. Pribadi)
Tiba-tiba saya kepo tentang satu taman edukasi ini sebab bentuknya yang unik. Saya coba menyusurinya. Saya berdiri tepat di depan bangunannya. Saya amati diam-diam mulai dari bawah hingga ujung. Dan sungguh, lagi-lagi saya dibuat takjub. Taman ini memang masih terhitung baru, umurnya masih muda. Diresmikannya baru bulan Mei 2014 lalu oleh Brigadir Dewa Persada. Letaknya ada di kelurahan Tondo, Mantikulero, kota palu. Bentuknya yang berundak dan diatasnya ada sebuah patung obor. Menambah gagahnya bangunan. Katanya, tempat ini menjadi simbol semangat persatuan dan persaudaraan dari seluruh anak bangsa. Sengaja bentuk bangunan ini sedemikian rupa dibuat pasti ada artinya. Ada tiga tingkat undakannya, yang memiliki makna keseimbangan dalam hidup. Yang menggambarkan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan penciptanya dan manusia dengan lingkungannya.

bukit, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, May Khakasa, monumen, nosarara nosabatutu, notes, Palu, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, taman, traveling, nosarara nosabatutu, palu, wisata, gong, liburan, taman, bukit, brigadir
Di depan Taman Edukasi Nosarara Nosabatutu (Dok. Pribadi)
Berlanjut pada atapnya. Ada yang unik, di sini ada berbagai lambang tempat ibadah semua agama di tanah air. Yang maknanya juga akan bersambung pada sikap saling menghormati dan menghargai segala bentuk keyakinan dalam beragama. Di luar bagunan ini ada satu tempat yang tak kalah bagusnya untuk dituliskan. Apa itu?? Tunggu sejenak coretan saya selanjutnya. Selamat berkarya sang pejalan. ^ ^

bukit, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, May Khakasa, monumen, nosarara nosabatutu, notes, Palu, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, taman, traveling, nosarara nosabatutu, palu, wisata, gong, liburan, taman, bukit, brigadir
Di atas bukit Nosarara Nosabatutu (Dok. Pribadi)

Read More »