Selamat Datang | Muyasaroh Notes | Bersama Saling Berbagi dan Menjadi Pembelajar yang Hebat Muyasaroh Note: Juni 2016

Sabtu, 25 Juni 2016

Chatingan Sama Orang Luar Negeri, Sambil Belajar Lagi

Katanya, belajar bahasa yang bisa membuat kita mahir secara langsung salah satunya dengan pergi ke negaranya. Waduh, akomodasi kesananya itu yang belum cukup, masih ditabung. He-he-he. Mau khursus lagi pun, sepertinya tidak sekarang. Masih ada yang lebih diprioritaskan.  Lantas diam saja? Menunggu wangsit datang tiba-tiba, mendadak pintar berbahasa. Waaaa.. cara dari mana itu?. Sepengetahuan saya sampai saat ini, orang bisa karena mau dan berani untuk belajar. Kalau ada cara yang instan, ikutan wes. Bagi-bagi dong caranya.

Saya mempunya impian. Suatu hari nanti saya bisa berkunjung ke negara tetangga. Berinteraksi, berdiskusi, saling berbagi pengalaman, dan berkawan dengan mereka. Sama siapa saja yang penting dalam arah kebaikan. Kalau saya mau flashback, sejak kecil lingkungan sudah pake bahasa Jawa, asli Suroboyo-an. Keluarga pun saklek tulen Suroboyo-an ya meski terkadang campur sih dengan bahasa Nasional, Indonesia. Keluar SD, saya move on. Allah kasih Jalan kepada saya untuk sekolah di lingkungan yang benar-benar baru. Dan menurut saya ya.. yang masih super cupu abis anak kampungan, terus di sekolahin sama anak-anak kotaan. Apalagi lingkungan sekolah yang menerapkan 3 bahasa. Inggris, Arab dan pastilah bahasa Indonesia. Biuuhh, ampun ya.. Perubahan lingkungan yang menurut saya sangat drastis, mental usia kecil saya sedang diuji. Sampai-sampai seminggu selepas masuk sekolah tepar, sakit seminggu. Demam, panas tinggi-dingin. Orang tua tak tahu kenapa anaknya tiba-tiba sakit seperti ini. Suatu malam, saya cerita ke Ibu saya. Lingkungan Sekolah yang sangat baru itu. Yah.. curhatannya anak-anak SMP lah. Cerita panjang lebar kali tinggi. Dan Ibu hanya bisa mendengar saja. Beliau pun belum tahu seperti apa sekolah itu. Hanya kakak saya yang tiap kali riwa riwi ke sekolah, mengurus administrasi dan keperluan saat pendaftaran sekolah itu. Dari hasil curhatan itu, ternyata ibu cerita ke kakak. Memungkinkan kalau saya, sepertinya sedang shock berat. Kaget dengan sekolahnya yang saat itu. Putus asa. Apalagi, sempat saya keceplosan bilang sambil nangis belum kuat sekolah yang seperti itu.

Setelah mendengar cerita dari Ibu, Gak perlu menunggu lama. Saya di dudukkan sama kakak saya. Diberi wejangan-wejangan. Eh, nasihat lebih tepatnya. Yang membuat saya harus bangkit kembali. Nasihat apa itu??? Belum bisa dituliskan disini. Hanya saya dan kakak saya yang tahu. Hingga membuat saya berjanji demi... ha-ha-ha. Dan janji itu pun hingga saat ini masih saya perjuangkan untuk mewujudkannya. Yang jelas impian perubahan lebih baik untuk orang-orang yang saya cintai dan sayangi. Semua ada prosesnya yang penting berani untuk memulainya.

Hebatnya setelah peristiwa duduk bersama itu, saya tiba-tiba sembuh. Mungkin ini yang dibilang. Obat yang paling manjur itu ada pada keyakinan dari dalam hati. Oke, Saya berupaya untuk beradaptasi. Berusaha untuk belajar bahasa disana. Bekal bahasa Arab, okelah, dari keluarga bisa. Indonesia, bisalah. Eittt tapi untuk satu bahasa ini. Inggris. Tepok jidat saya. Basic-nya sangat kurang sekali. Tapi, lingkunganlah yang membantu saya. Apalagi guru-guru di SMP buaik puooll. Telaten ngajari saya. Saya masih ingat betul, reading time setelah makan siang saya gunakan untuk pergi ke beliau. Yang lain baca-baca di kelas atau di perpus. Saya nongkrong di kantor. Ha-ha-ha. Belajar pengucapan kata. Seiring waktu saya bisa menyamai mereka. Mengerti dengan berbahasa inggris-an.

Dilanjut, berbahasa inggris untuk saat ini. Sangatlah penting. Biar gak kalah sama orang-orang hebat diluar sana. Ketika kita bisa dan mengerti. Jangan diendapkan saja, digunakan saat kita perlu saja. Misal, saat mencari jurnal-jurnal berbahasa inggris atau mencari referensi-referensi lain dengan menggunakan bahasa asing ini. Harus selalu di-update.

Ada satu cara. Mudah kita lakukan. Diawal kali saya buka tulisan ini. Belajar bahasa yang manjur ya di negaranya. Terus kalau belum bisa melalang kesana? Bagaimana? Tenang, banyak cara menuju Roma. Eh, ganti-ganti. Banyak cara menuju Mulyosari, Surabaya. Lebih dekat dengan rumah saya. Mari bersilaturrahmi. Balik, dilanjut dulu. Ramadhan tahun ini kadang saya gunakan untuk ber-chating ria saat jam-jam istirahat dari aktifitas saya. Chatingan-nya bukan sama orang yang satu bangsa dan satu bahasa. Melainkan dengan orang di negeri seberang sana. Say hello, say something, and share info. Tujuannya hanya satu. Belajar dan selalu update bahasa kita. Learning by doing. Khususnya di conversation saya. Dari sini. Secara tidak langsung kita akan terpancing untuk mengatakan sesuatu. Contoh, saya ada seorang teman yang berasal dari Malaysia. Namanya nur sabrina. Kebetulan dia muslim, umurnya masih 20 tahun, saya tanya saja suasana ramadhan di sana. Budaya, adat dan apa saja yang berhubungan dengan bulan ramadhan. Kan pasti beda dengan indonesia. Sedikit-sedikit saya pun minta diajari bahasa mereka. Lain dengan teman yang ada dari India, umurnya sudah 45 tahun seorang bapak-bapak. Setahu saya, budaya dan adat di India cukup buanyak. Apalagi India juga salah satu negara yang mendapatkan penghargaan sebagai negara yang memiliki budaya terbanyak di dunia menurut UNESCO selain Indonesia. Nah, saya angkat topik ini ke pembicaraan. Apalagi saat ini di Indonesia sedang demam-demanya dengan virus perfilman India. Terus adalagi teman dari Algeria seorang electical engineer, London dan negara-negara lainnya. Dan serunya dari beberapa teman yang saya ajak berbicara ini akan mengirimkan kartu lebaran kepada saya nanti. He-he-he

Banyak situs chating yang beredar untuk menambah teman sekaligus belajar dengan mereka. Kalau saya sendiri. Menggunakan situs www.hospitalityclub.org dan www.interpals.net. Alangkah indahnya jika kita manfaatkan akun-akun media sosial untuk hal-hal yang positif. Selamat belajar dan berproses. ^ ^
Read More »