Selamat Datang | Muyasaroh Notes | Bersama Saling Berbagi dan Menjadi Pembelajar yang Hebat Muyasaroh Note: Azam untuk Belajar Menjadi Mawapres

Minggu, 03 September 2017

Azam untuk Belajar Menjadi Mawapres

apresiasi seleksi 
Pemuda Masa Depan Bangsa (Dok. Pribadi)

Ketika hati telah berazam. Tugas penting bagi kita adalah istiqomah mewujudkannya. Siap dengan segala apa yang terjadi dalam perjuangannya. Resiko seberat apapun, siap untuk dihadapi. Berbicara soal hasil, biarkan Sang Maha Pengatur yang memberikan keputusannya.

Ini adalah satu rangkaian dari beberapa kalimat sebagai pengantar tulisan ini. Saya mencoba menuangkan sebuah cerita yang seharusnya saya bagikan. Biarkan ia terbaca oleh setiap orang yang ingin mengetahui dan mengambil hikmah dari secuil perjalanan hidup ini. Untuk menyimpulkan sendiri bagaimana bentuk dan memahami azam itu sendiri.

Suatu saat seorang teman mengajukan nama saya untuk masuk dalam salah satu kandidat pemilihan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) untuk tingkat jurusan di salah satu perguruan tinggi negeri Surabaya. Entah kenapa, nama saya yang tiba-tiba dimunculkan. Banyak dukungan yang saya dapatkan saat itu. Baik dosen, teman, organisasi maupun keluarga. Ini satu alasan kuat bagi saya mengiyakan untuk maju sebagai kandidat. Berproses didalamnya. Dengan segala bentuk rangkaian kegiatannya.

Tahap awal, segala persyaratan, berkas, karya tulis dan sebagainya saya persiapkan. Hingga tiga nama terpilih untuk mempresentasikan karya dan inovasinya. Presentasi terbuka dengan tiga orang juri dari dosen yang terkenal super dalam penelitian berikut background-background yang super lainnya. Siap menilai, mengkritisi, dan membedah karya tulis. Diluar penilaian dari aspek lainnya terkait kemampuan tiap calon kandidat.

Tak pernah terbayangkan, dengan berbagai proses saya terpilih maju untuk mewakili jurusan ke proses selanjutnya hingga tingkat universitas. Artinya, akan ada kejutan-kejutan lain yang mengasah kemampuan saya ke level yang lebih tinggi. Butuh keyakinan kuat dalam diri yang saya rasakan dalam segala bentuk perjuangan untuk bertahan selama proses pemilihannya sepanjang tahun 2015 hingga puncak sebelum ke tingkat Nasional. Menyeimbangkan segala bentuk proses pemilihan dengan project-project saya lainnya, akademik, aktifitas organisasi, keluarga dan sosial. Sebuah tantangan dan perjuangan tersendiri bagi saya. Sungguh luar biasa.

Tibalah, proses di tingkat universitas dari tiga kandidat yang terpilih untuk menentukan satu kandidat saja untuk pemilihan ke tingkat nasional. Mulai dari psikotes, presentasi karya tulis, tes bahasa inggris, FGD, verifikasi kemampuan, penghargaan, dan prestasi. Saya hanya pasrah, lillahita'alah dengan segala bentuk prosesnya. Apalagi hasil dari segalanya. Hingga pengumuman terpilihnya satu mahasiswa yang akan mewakili ke tingkat nasional diumumkan beberapa minggu setelahnya. Walau saya terpilih sebagai mahasiswa berprestasi kedua. Ada rasa bahagia tersendiri tanpa adanya rasa kecewa. Justru saya turut mendukung dengan perjuangan teman saya ke tingkat selanjutnya.

Banyak rasa, bukan sekadar rasa biasa. Banyak keinginan dan harapan , bukan sekadar keinginan dan harapan biasa. Banyak perjuangan, bukan sekadar perjuangan biasa. Bukan sebuah pengakuan dan penghargaan yang dicari namun, kebermanfaatan diri kita untuk mewujudkan cita-cita bangsa untuk lebih baik lagi. Hambar rasanya jika apa yang dilakukan oleh kita hanya untuk memenuhi ambisius diri sendiri bukan untuk yang lebih besar dari itu. Di luar sana banyak yang menanti kebermanfaatan dalam diri kita dengan berbagai cara dalam segala bentuk permasalahan dan media lainnya. Terakhir dari tulisan ini. Ajakan untuk tetap berkarya, semangat dan selamat berproses ^ ^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa jejakkan komentar terbaikmu. Terima Kasih ^ ^