Selamat Datang | Muyasaroh Notes | Bersama Saling Berbagi dan Menjadi Pembelajar yang Hebat Muyasaroh Note: Siti Muyasaroh
Tampilkan postingan dengan label Siti Muyasaroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siti Muyasaroh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2017

Perjalanan Munas (Musyawarah Nasional) IV FLP se-Dunia

Part #1
Segala persiapan untuk sebuah pejalanan telah siap. Dilarang ribet, cukup simple saja. Justru, lebih ribet untuk memperoleh perizinan dan hampir mengundurkan diri ketimbang persiapan yang harus dibawa. He-he-he. Ransel sepaket dengan baju sudah dipundak, sebotol air minum siap bawa, sebungkus roti telah menunggu dimakan, buku dan Al-quran wajib terbawa, sangu? Secukupnya asal gak lupa dompet, gitu saja. ^ ^

Bersiap untuk MUNAS (Musyawarah Nasional) IV Forum Lingkar Pena (FLP) se-dunia. Setelah MUNAS tahun 2013 sejarah dilukiskan di kota Bali. Kali ini tahun 2017, Bandung akan menjadi sejarah adanya MUNAS FLP se-dunia yang dimulai sejak 3 November 2017. Delegasi yang d8ikirimkan baik dalam negeri maupun luar negeri akan memenuhi kota Kembang. Sebanyak 44 wilayah dan 110 cabang delegasi FLP seluruh Dunia siap membanjiri kota ini. Sebentar, pemanasan dulu. Sebelum membahas tentang MUNAS, penulis ingin berjejak sedikit tentang perjalanan yang jarang dipandang dan dirasakan oleh penulis. Bolehkan? Sudahlah dipaksa boleh ya ...

Gerbong 3 Kereta Pasundan (Dok. Pribadi)
Gerbong 3 kereta Pasundan dengan keberangkatan pukul 08.10 tercatat tanggal 2 November 2017 akan menambah satu note penulis. Delegasi yang diberangkatkan MUNAS tahun ini untuk mewakili tiap cabang dan wilayah sungguh luar biasa. Penulis mengawali perjalanannya dari Stasiun Gubeng Baru, Surabaya. Yang biasanya menapaki perjalanan sendiri,  kali ini tidak menjomblo. Alias rame-rame, bareng delegasi lainnya. Walaupun status masih saja jomblo. Ups. Bahas jomblo gak bakal selesai dah. Kembali yuk ...

Kereta pasundan melaju dengan pesat. Beberapa stasiun seperti Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ngawi hingga total 33 stasiun terlewati menuju Stasiun Kiara Condong, Bandung. Dan tiap pemberhentiannya, berjumpalah dengan teman seperjuangan yang terdelegasikan di Munas. Sengaja memang terencanakan satu gerbong sebelumnya. Dengan memanfaatkan satu layanan pemesanan tiket diKAI. Say hello, saling bersalaman, bertegur sapa, ngumpul, bercanda, saling tukar pikiran, baca buku, hingga solat di dalam kereta dilakukan bareng-bareng. Perjalanan yang memakan waktu 15 jam ini sungguh luar biasa. Luar biasanya sebab segala yang terjadi di atas kereta, banyak cara apik untuk menghilangkan semua bentuk kebosanan dalam perjalanan.

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Solat Berjamaah dalam Gerbong Kereta (Dok. Pribadi)
Diskusi sehat tentang karya masing-masing delegasi menjadi satu topik yang waw. Kemudian satu buku antologi dari FLP Jawa Timur yang sukses membuat penulis dan lainnya Baper. Buku yang diberikan dalam perjalanan menuju munas ke-4 dengan judul "Haruskah Aku Yang Melamarmu?" menjadi trading topik hangat dalam gerbong. Pasalnya, si penulis dengan judul tulisan dalam buku tersebut sekaligus menyebarkan undangan pernikahannya pada tanggal 13 November 2017 mendatang di saat yang sama. Buku yang menceritakan pengalaman dan tips-tips pejuang jomblo tertuang dalam buku ini. Keren abislah pokoknya. Semacam undangan yang terbalut dalam buku. BarakaAllah atas undanganya. Penasaran ya... Bagaimana bukunya? Marilah order. Kunjungi akun instagram Sahaja Buku, Cahaya Pustaka atau kepoin akun-akun flp jatim. Tersedia stoknya sebelum kehabisan. Baru juga naik cetak dan cetakan pertama yang terbaca dan terbagikan dalam gerbong 3 kereta pasundan itu.

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Buku Haruskah Aku yang Melamarmu? (Dok Pribadi)
Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Undangan untuk Pernikahan Penulis Buku 
Perjalanannya mengesankan. Satu sama lain meninggalkan kesan tersendiri. Yang sulit move on dalam setiap kejadiannya. Jarang-jarang moment kumpul seperti ini. Hanya dirasakan saat menuju Munas ke-4 FLP tahun ini. Kesan ini ditambah dengan fasilitas kereta api dari PT KAI yang semakin maju. Di gerbong 5 akan ada sebuah kantin yang menyediakan makanan dengan menu yang ditentukan oleh pihak kereta. Dari makanan ringan hingga makanan berat tersedia. Dalam gerbong itu juga ada tempat kecil yang disulap menjadi musholah oleh kondekturnya. Tempat duduk untuk dijadikan tempat nongkrong sekaligus makan yang cukup nyaman dalam kantinnya. Toilet dalam kereta yang bersih dan petugas dengan sigap di jam-jam tertentu siap membersihkan area tiap gerbong yang kurang bersih sebab adanya sampah. Ac-nya juga terpasang lengkap dengan pengharum ruangan. Fasilitasnya bagus pokoknya. Gak kalah dengan kereta eksekutif atau bisnis yang pernah penulis naiki. Seandainya dalam gerbong kereta disediakan perpustakaan. Huaaa... lengkap sudah. Semakin kece badai PT KAI zaman now.

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Kantin dalam Kereta ((Dok. Pribadi)
Berbicara tentang fasilitas, ada yang paling berkesan ni bagi penulis. Salah satunya kantin. Ini tempat nongkrok yang kece. Saat perut sudah melilit minta diberi asupan lagi. Tempat ini tujuan utamanya. Bukan persoalan menu,  harga atau tempatnya. Tapi perjumpaan dengan seorang kondektur yang cantik nan ramah. Berbeda dengan kondektur-kondektur perempuan yang dijumpai saat menaiki kereta lainnya.

Namanya Rosida, lengkapnya Rosida Maharani. Penulis mengenalnya tepat saat berada di kantin. Sapanya yang halus sontak menghentikan sejenak aktifitas saat itu. Oke, berkenalan. Pembicaraan saat itu mengalir saja. Apa adanya. Enak diajak ngobrolnya. Ternyata, mbak-mbak kondektur ini dari tadi mengamati rombongan kami. Melihat kami asyik dengan buku-buku, diskusi, solat dan segala aktifitas dalam gerbong menarik perhatiannya. Dan ingin nimbrung juga bersama. Mbak cantik ini tiba-tiba menceritakan pengalaman perjalanan hidupnya hingga mengantarkan ia bekerja di KAI, hobinya yang juga membaca dan menulis. Bahkan yang paling membuat dia sampai sekarang terngiang dan menyesal adalah hilangnya buku catatan tulisan-tulisannya saat masih bersekolah dulu. Mbak satu ini jago benar loh membuat puisi. Tiap baitnya huss ... Pemilihan kata yang digunakan melelehkan pembacanya. Asekk. Hingga tulisan ini di-posting, penulis masih sambung silaturrahmi melalui akun Instagram dan kontaknya. Kita ada dilingkaran dengan hobi yang sama dan kesukaan yang sama pula. Dan saat penulis bercerita tentang tokoh yang ia idolakan ada dalam satu pena perjuangan di flp. Mbak cantik itupun kegirangan. Siapa yang tidak kenal dengan bunda Helvy Tiana Rossa. Bahkan dalam perjalanan munas inipun rombongan kita akan satu ruangan dan berjumpa dengan bunda yang kece satu itu. Semoga saja bisa bertemu kembali di lain kesempatan ya gelis... Salam Pena. ^ ^

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Baca Buku Bersama (Dok. Pribadi)

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Jepretan tak sengaja petugas Kereta Api sedang Membaca Alquran di Sebelah ruang Kantin (Dok. Pribadi)

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Diskusi Karya (Dok. Pribadi)

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Aktiitas dalam Kereta Bersama (Dok. Pribadi)

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Musholah dalam Kereta (Dok. Priibadi)

Wedding, ulin, munas FLP, bandung, KAI, perjalanan, Muyasaroh, Musyawarah Nasional, Forum lingkar pena, kereta, gubeng, stasiun, buku, perpustakaan
Stasiun Kiara Condong, Bandung (Dok Pribadi)

Read More »

Kamis, 01 Juni 2017

Gong Perdamaian Nusantara Palu

Urek-urek berlanjut kembali. Rasanya ada beban moral jika tulisan itu tidak dikhatamkan. Tempo hari saya mengulas sebuah cerita yang saya jejakkan di sini [baca: Palu dengan Taman Edukasi Nosarara Nosabatutu]. Perjalanan ini belum berakhir, masih berkutat dengan Taman Edukasi. Setelah Nosarara Nosabatutu, saya hengkang dari tempat tersebut. Bergeser ke satu tempat yang harus saya kepoin.

Panasnya Palu, saya tepis untuk menuju sebuah gong. Disebutnya Gong Perdamaian yang disimbolkan sebagai perdamaian nusantara. Adanya simbol perdamaian di salah satu ibu kota povinsi Sulawesi Tengah, mungkin sudah tidak asing lagi alasannya. Di provinsi ini memang sering diberitakan adanya konflik. Konflik yang memicu peperangan antar sesama. Nah, sebab alasan itulah gong ini didirikan untuk mempererat tali persaudaraan dan perdamaian dari segala ricuh yang mengandung konflik. Baik konflik antar agama, ras, budaya, suku bahkan adanya teroris.

budaya, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, May Khakasa, monumen, Nusantara, Palu, penulis, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, traveling, writer, provinsi, simbol, nusantara, lambang, indonesia, seni, kearifan, patung, indah, pemandangan, wisata, wisata alam, touring
Gong Perdamaian Palu (Dok. Pribadi)

Sangking pentingnya gong ini, hingga menuju tempatnya pun harus melepas alas kaki. Setelah melewati beberapa anak tangga, barulah saya bisa dikatakan benar-benar berdekatan dengan gong ini. Telihat pada gongnya ada satu lingkaran yang paling dalam dan kecil. Bentuknya menonjol ke depan dengan gambar peta NKRI. Lingkaran kedua terdapat lima simbol agama yang ada di Indonesia. Diluar simbol tersebut ada sebuah tulisan “Gong Perdamaian Nusantara, Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Bangsa”. Kemudian terdapat 33 simbol provinsi dan sekitar ratusan simbol daerah dari berbagai kota dan kabupaten di Indonesia.

Sudah puas mengamati sekaligus berfoto gembira di area gong, dari tempat saya berdiri tepat  di depan gong saya melihat kota Palu beserta pegunungan dan lautnya sejauh mata memandang. Lagi-lagi, indra penglihatan saya dimanjakan oleh indahnya Indonesia. Saat saya tengok ke arah bawah tepat saya berdiri ada sebuah patung. Patung seorang wanita dengan membawa sebuah kendi yang berisikan air. Katanya, patung tersebut dilambangkan sebagai ibu pertiwi yang selalu menyirami kesuburan tanah air. Sama halnya juga dengan sebuah patung di sisi lain yang terlihat membawakan sebuah alat musik tradisional yang katanya pun dilambangkan sebagai seninya Indonesia. Wah... sungguh indah bukan main patung-patung dan hiasan ditempat ini yang ternyata dalam setiap sisinya mengandung sebuah makna. Makna yang harus kita pahami. Dihormati dalam keadaanya. Dan dijalani dalam setiap artiannya. Alangkah indah benar, jika makna dari bentuk setiap perlambangan dan patungnya benar-benar ada untuk diaplikasikan dalam kehidupan yang sesunggunya. Agar tidak hanya menjadi lambang-lambang yang sejatinya ia berkata namun tak berdaya untuk digerakkan dan diwujudkan.


budaya, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, May Khakasa, monumen, Nusantara, Palu, penulis, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, traveling, writer, provinsi, simbol, nusantara, lambang, indonesia, seni, kearifan, patung, indah, pemandangan, wisata, wisata alam, touring
Gong Perdamaian (Dok. Pribadi)

budaya, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, May Khakasa, monumen, Nusantara, Palu, penulis, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, traveling, writer, provinsi, simbol, nusantara, lambang, indonesia, seni, kearifan, patung, indah, pemandangan, wisata, wisata alam, touring
Di depan Gong Perdaaian (Dok. Pribadi)


Read More »

Sabtu, 27 Mei 2017

Palu dengan Taman Edukasi Nosarara Nosabatutu

Provinsi yang satu ini memang panas. Letaknya yang termasuk nol derajat dari garis khaltulistiwa membuatnya menyengat. Nah, kali ini saya ingin menuliskan satu tempat yang sempat saya singgahi ditengah-tengah riuhnya aktifitas di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Terik matahari di kota ini memang tinggi, ditambah pula kondisi tanah yang lebih banyak berpasir dan liat. Sejenis tanah alluvial yang memiliki unsur zat hara yang sedikit menambah hawa sumer kata orang jawa. Walau demikian, tempat ini indah. Seperti taman edukasi Nosarara Nosabatutu yang saya kunjungi. Tempatnya agak sedikit naik ke perbukitan. Sejauh mata memandang dari atas perbukitannya, kota palu terlihat dengan jelas bersama pegunungan dan lautnya yang sungguh memanjakan mata. Indonesia memang luar biasa kerennya.

bukit, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, May Khakasa, monumen, nosarara nosabatutu, notes, Palu, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, taman, traveling, nosarara nosabatutu, palu, wisata, gong, liburan, taman, bukit, brigadir
Nosarara Nosabatutu (Dok. Pribadi)
Tiba-tiba saya kepo tentang satu taman edukasi ini sebab bentuknya yang unik. Saya coba menyusurinya. Saya berdiri tepat di depan bangunannya. Saya amati diam-diam mulai dari bawah hingga ujung. Dan sungguh, lagi-lagi saya dibuat takjub. Taman ini memang masih terhitung baru, umurnya masih muda. Diresmikannya baru bulan Mei 2014 lalu oleh Brigadir Dewa Persada. Letaknya ada di kelurahan Tondo, Mantikulero, kota palu. Bentuknya yang berundak dan diatasnya ada sebuah patung obor. Menambah gagahnya bangunan. Katanya, tempat ini menjadi simbol semangat persatuan dan persaudaraan dari seluruh anak bangsa. Sengaja bentuk bangunan ini sedemikian rupa dibuat pasti ada artinya. Ada tiga tingkat undakannya, yang memiliki makna keseimbangan dalam hidup. Yang menggambarkan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan penciptanya dan manusia dengan lingkungannya.

bukit, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, May Khakasa, monumen, nosarara nosabatutu, notes, Palu, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, taman, traveling, nosarara nosabatutu, palu, wisata, gong, liburan, taman, bukit, brigadir
Di depan Taman Edukasi Nosarara Nosabatutu (Dok. Pribadi)
Berlanjut pada atapnya. Ada yang unik, di sini ada berbagai lambang tempat ibadah semua agama di tanah air. Yang maknanya juga akan bersambung pada sikap saling menghormati dan menghargai segala bentuk keyakinan dalam beragama. Di luar bagunan ini ada satu tempat yang tak kalah bagusnya untuk dituliskan. Apa itu?? Tunggu sejenak coretan saya selanjutnya. Selamat berkarya sang pejalan. ^ ^

bukit, edukasi, gong perdamaian, Home, Indonesia, Inspiratif Story, May Khakasa, monumen, nosarara nosabatutu, notes, Palu, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi tengah, taman, traveling, nosarara nosabatutu, palu, wisata, gong, liburan, taman, bukit, brigadir
Di atas bukit Nosarara Nosabatutu (Dok. Pribadi)

Read More »

Kamis, 25 Mei 2017

Masjid di atas (Laut) Kota Palu

Tak pernah berhenti untuk menyebutkan kalimat-kalimat keagungan Sang Illah. Saat berdiri dalam sebuah ketakjuban yang luar biasa. Sontak saya berpikir, "ini bukan sebuah perjalanan bertugas yang biasa-biasa saja, so amazing,”. Tak sabar saya menuliskan perjalanan ini dalam note yang ada pada mesin genggam buatan manusia. Bukan tentang tugas apa yang sedang saya lakoni. Tapi sebuah perasaan kagum. Kagum dengan segala yang terjadi sejauh mata memandang.

Salah satu ibu kota di Sulawesi, tepatnya di kota Palu. Ada sebuah tempat, dimana tempat tersebut indah dengan hiasan kelap kelip lampunya, jalanannnya seperti lorong tanpa atap yang memesona. Berjalan diatasnya dengan pemandangan kanan dan kiri laut yang berirama nyanyian duyung. Sungguh memesona untuk memanjakan indra penglihatan.

Home, Indonesia, Inspiratif Story, masjid terapung, jembatan kuning, kota, icon, lamang, nusantara, islam, damai, keagungan, May Khakasa, Palu, pengalaman, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi, sulawesi tengah, traveling, travelling, Masjid, Palu, mercusuar, gubernur, argam bab al rahman, laut, indonesia, pesona
Masjid Terapung Palu (Dok. Pribadi)
Dikenalnya dengan sebutan masjid terapung kota palu, masjid Argam Bab Al Rahman yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tengah pada tanggal 12 Januari 2012. Masjid ini berada ditengah-tengah kota. Dekat sekali dengan salah satu jembatan yang menjadi icon kota ini. Nanti saya bahas tentang jembatan itu di lain tulisan saja. Saat ini, hati saya menggebu untuk menggoreskan satu tempat yang membuat saya sedari tadi terkagum. Masjid terapung.

Bukan persoalan tentang indahnya masjid yang kerap malam kubahnya memancarkan tujuh warna dengan alat khusus didatangkan langsung dari Cina. Bukan karena suasana yang dibawa angin bersama deburan ombak laut yang belum terlalu kuat. Pun bukan karena letaknya yang berada di tengah laut yang diberdirikan dengan pilar-pilar beton berkedalam puluhan meter. Namun, sebuah perasaan yang luar biasa dirasakan. Saya bersujud kepada Rabb Yang Maha Agung di atas keagungan tempat ini. Sungguh tak ada kata atau kalimat yang indah lagi untuk tertuliskan selain kalimat-kalimat keindahan-Nya. Allahu Akbar, MasyaAllah.

Home, Indonesia, Inspiratif Story, masjid terapung, jembatan kuning, kota, icon, lamang, nusantara, islam, damai, keagungan, May Khakasa, Palu, pengalaman, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi, sulawesi tengah, traveling, travelling, Masjid, Palu, mercusuar, gubernur, argam bab al rahman, laut, indonesia, pesona
Teras Masjid Terapung Palu (Dok. Pribadi)

Read More »

Minggu, 05 Maret 2017

Kuliner Mantap di (Pulau) Kota Kecil

Melakukan perjalanan di suatu kota ataupun menetap untuk melakukan kepentingan tertentu, tidak afdhol jika belum mengetahui ciri khas kota tersebut. Nah, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang makanan khas dari kota Toli-toli yang terletak di Sulawesi Tengah. Kota Toli-toli ini merupakan kota kecil yang sudah maju dari beberapa pulau kecil di Sulawesi Tengah. Sistem transportasi yang tertata bagus, mulai dari alat transportasi darat, laut, maupun udara. Bangunan sekolah yang sudah berjajar rapi mulai dari playgroup hingga perguruan tinggi. Dan beberapa aspek kehidupan lainnya.

Sebenarnya, bukan pertama kali saya datang ke kota ini, entah untuk kesekian kalinya, tak terhitung. Tapi tetap rindu dengan tempat-tempat yang ada di kota tersebut. Mungkin karena kota ini adalah tanah kelahiran saya dan sebab itu pula jika adanya suatu kepentingan yang harus dilakukan di kota tersebut, saya akan mengiyakan.  Sejauh mata memandang, kota ini dikelilingi oleh pegunungan dan laut yang apik nan indah. Berbeda dengan kota-kota di Jawa Timur yang pernah saya singgahi.

Ada salah satu jenis makanan yang wajib dicoba dari kota ini. Orang-orang menyebutnya “ambal”. Hati-hati kalau mendengar jenis makanan ini, sebab jika orang Jawa ke kota tersebut sering salah dengar dengan kata “hambal”. Penambahan huruf “h” salah besar dalam pemahamnnya, sebab keduanya berbeda jauh. Hambal dalam bahasa jawa merupakan sejenis tikar atau karpet, tapi ambal adalah sejenis makanan khas dari kota tersebut. Jika boleh dikatakan, di kota-kota besar terdapat jenis makanan yang dikenal pizza. Nah, ambal ini bisa juga disebut mini pizza khas kota Toli-toli yang rasanya akan mengalahkan rasa pizza.

kota, kuliner, traveling, jalan-jalan, wisata, tradisioanal, nusantara, makanan, makan, minum, minuman,ambal, hambal, sulawesi, sulawesi tengah, tungku, api, bara, panas, dabu-dabu, karpet, sambal, minyak, main, pizza, enak nikmat, toli-toli, daerah terpencil, subur, wajan, memasak, belajar, lalapan, pedas, jawa, siti muyasaroh
Kuliner Ambal (Doc. pribadi)
Ambal terbuat dari sagu yang didalamnya terdapat ikan-ikan kecil yang disebut cakalang. Cara membuatnya pun unik, dimasak diatas tungku api dengan penggorengan menggunakan wajan kecil  yang terbuat dari tanah liat. Karena dimasak tanpa menggunakan minyak jadi aman untuk orang yang memiliki kolesterol tinggi. Jika sudah matang, ambal akan disajikan dengan jenis lalapan yang disebut daun kemangi. Tidak ketinggalan dabu-dabu, sejenis sambal yang pedihnya bukan main. Jika orang yang suka pedas, mantap untuk mencoba jenis makanan ini. Jadi, selamat berkulineria sang Pejalan...
Read More »