Selamat Datang | Muyasaroh Notes | Bersama Saling Berbagi dan Menjadi Pembelajar yang Hebat Muyasaroh Note

Kamis, 25 Mei 2017

Masjid di atas (Laut) Kota Palu

Tak pernah berhenti untuk menyebutkan kalimat-kalimat keagungan Sang Illah. Saat berdiri dalam sebuah ketakjuban yang luar biasa. Sontak saya berpikir, "ini bukan sebuah perjalanan bertugas yang biasa-biasa saja, so amazing,”. Tak sabar saya menuliskan perjalanan ini dalam note yang ada pada mesin genggam buatan manusia. Bukan tentang tugas apa yang sedang saya lakoni. Tapi sebuah perasaan kagum. Kagum dengan segala yang terjadi sejauh mata memandang.

Salah satu ibu kota di Sulawesi, tepatnya di kota Palu. Ada sebuah tempat, dimana tempat tersebut indah dengan hiasan kelap kelip lampunya, jalanannnya seperti lorong tanpa atap yang memesona. Berjalan diatasnya dengan pemandangan kanan dan kiri laut yang berirama nyanyian duyung. Sungguh memesona untuk memanjakan indra penglihatan.

Home, Indonesia, Inspiratif Story, masjid terapung, jembatan kuning, kota, icon, lamang, nusantara, islam, damai, keagungan, May Khakasa, Palu, pengalaman, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi, sulawesi tengah, traveling, travelling, Masjid, Palu, mercusuar, gubernur, argam bab al rahman, laut, indonesia, pesona
Masjid Terapung Palu (Dok. Pribadi)
Dikenalnya dengan sebutan masjid terapung kota palu, masjid Argam Bab Al Rahman yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tengah pada tanggal 12 Januari 2012. Masjid ini berada ditengah-tengah kota. Dekat sekali dengan salah satu jembatan yang menjadi icon kota ini. Nanti saya bahas tentang jembatan itu di lain tulisan saja. Saat ini, hati saya menggebu untuk menggoreskan satu tempat yang membuat saya sedari tadi terkagum. Masjid terapung.

Bukan persoalan tentang indahnya masjid yang kerap malam kubahnya memancarkan tujuh warna dengan alat khusus didatangkan langsung dari Cina. Bukan karena suasana yang dibawa angin bersama deburan ombak laut yang belum terlalu kuat. Pun bukan karena letaknya yang berada di tengah laut yang diberdirikan dengan pilar-pilar beton berkedalam puluhan meter. Namun, sebuah perasaan yang luar biasa dirasakan. Saya bersujud kepada Rabb Yang Maha Agung di atas keagungan tempat ini. Sungguh tak ada kata atau kalimat yang indah lagi untuk tertuliskan selain kalimat-kalimat keindahan-Nya. Allahu Akbar, MasyaAllah.

Home, Indonesia, Inspiratif Story, masjid terapung, jembatan kuning, kota, icon, lamang, nusantara, islam, damai, keagungan, May Khakasa, Palu, pengalaman, perjalanan, Siti Muyasaroh, sulawesi, sulawesi tengah, traveling, travelling, Masjid, Palu, mercusuar, gubernur, argam bab al rahman, laut, indonesia, pesona
Teras Masjid Terapung Palu (Dok. Pribadi)

Read More »

Jumat, 28 April 2017

Rumah Adat Toli-toli

Entah mengapa saya tak bosan untuk bercerita tentang keunikan dari sebuah kota terkecil yang berkembang dari satu pulau di provinsi Sulawesi Tengah. Kota ini berasal dari kata Totolu yang berarti tiga. Konon masyarakat mengartikannya sebagai tiga manusia kayangan turun ke bumi dengan menjelma melalui tiga bentuk. Pertama, olisan bulan dalam bahasa Indonesia berarti bambu emas. Kedua, bumbung lanjat yang bermakna puncak pohon langsat. Dan ketiga, ue saka yang dapat dipahami seperti sejenis rotan. Kemudian berganti menjadi Tontoli dan terakhir berubah menjadi Toli-toli. Jika dipikir, berat sekali kalimat pembuka dalam cerita ini. Berkaitan dengan sejarah yang memenatkan. Santai, boleh diberhentikan membacanya, cukup sampai di sini jika menurut pembaca dirasa membosankan. Ini hanya pemanasan, saya tidak akan membahas masa lampau dari kota ini. Ada hal lain yang ingin saya bagikan.

Di kota ini, ada sebuah rumah adat. Namanya Balre Masigi yang dibangun di tempat bekas istana para raja Toli-toli, bentuknya sangat unik. Penuh arti keislaman, sebab memang dulu kota ini dipimpin oleh seorang raja dan kejayaan dirasakan setelah agama Islam memasukinya. Rumah-rumah adat di luar pulau Jawa, pasti identik dengan rumah yang berbentuk panggung. Hanya saja, ada hal-hal unik yang menjadi pembeda. Bentuk atap Balre Masigi bertingkat berjumlah lima susun yang melambangkan rukun Islam. Dalam bahasa Toli-toli, tangga yang digunakan disebut ondan diapala dengan ditambah ornamen kepala buaya. Memiliki arti sebagai kekuasaan dan menggambarkan bahwa masyarakat suku Toli-toli bersifat sabar tetapi seketika marah jika wilayah daerahnya diganggu. Warna rumah adatnya pun khas kota ini, yaitu kuning.

About me, beranda, berbagi, pulau,laut,gunung, balre masigi, toli-toli, berproses, budaya, bukit, chat, education, edukasi, gong perdamaian, Home, ilmu, impian, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, kota, kuliner, kumpulan puisi, Luar negeri, masjid terapung, May Khakasa, maykhakasa, monumen, non fiksi, nosarara nosabatutu, notes, Nusantara, Palu, pengalaman, penulis, perjalanan, pizza, pulau, ramadhan, Review, share, Siti Muyasaroh, sukses, sulawesi, sulawesi tengah, taman, tips, toli-toli, traveling, travelling, writer, wisata, nusantara, adat, tradisional
Balre Masigi Toli-toli (Dok. Pribadi)
Balre Masigi ini, diresmikan oleh Bupati Toli-toli pada tanggal 6 Desember 2006 bernama Bapak Ma’ruf Bantilan. Ketika memasuki wilayah halaman rumah adat ini tak ada tarif yang dikenakan, langsung masuk saja. Pikir saya, ketika masuk ke dalam rumah tersebut juga akan mudah layaknya memasuki halaman. Namun rumah tersebut terkunci yang artinya pengunjung dilarang masuk ke dalam. Rasa penasaran akan isi di dalamnya pun hilang. Tapi view dari halaman rumah ini cukup apik. Sayang sekali jika melewatkan moment berfotonya. Esok, ketika saya kembali lagi menghampiri rumah ini saya akan usahakan memasuki dan akan menambahkan sedikit ceritanya. Selamat membaca.. ^^

About me, beranda, berbagi, pulau,laut,gunung, balre masigi, toli-toli, berproses, budaya, bukit, chat, education, edukasi, gong perdamaian, Home, ilmu, impian, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, kota, kuliner, kumpulan puisi, Luar negeri, masjid terapung, May Khakasa, maykhakasa, monumen, non fiksi, nosarara nosabatutu, notes, Nusantara, Palu, pengalaman, penulis, perjalanan, pizza, pulau, ramadhan, Review, share, Siti Muyasaroh, sukses, sulawesi, sulawesi tengah, taman, tips, toli-toli, traveling, travelling, writer, wisata, nusantara, adat, tradisional
Teras Balre Masigi (Dok. Pribadi)
About me, beranda, berbagi, pulau,laut,gunung, balre masigi, toli-toli, berproses, budaya, bukit, chat, education, edukasi, gong perdamaian, Home, ilmu, impian, Indonesia, Inspiratif Story, keren, konflik, kota, kuliner, kumpulan puisi, Luar negeri, masjid terapung, May Khakasa, maykhakasa, monumen, non fiksi, nosarara nosabatutu, notes, Nusantara, Palu, pengalaman, penulis, perjalanan, pizza, pulau, ramadhan, Review, share, Siti Muyasaroh, sukses, sulawesi, sulawesi tengah, taman, tips, toli-toli, traveling, travelling, writer, wisata, nusantara, adat, tradisional
Halaman Balre Masigi (Dok. Pribadi)
Read More »

Kamis, 20 April 2017

Jalan Baru Penikmat Wedang

Ada satu cerita lagi yang ingin saya tulis. Sayang jika ini dilewatkan. Pada postingan saya lalu (baca: Kuliner mantap di (Pulau) Kota Kecil), sedikit saya ceritakan tentang satu kuliner yang tidak kalah mantap. Jenis kuliner yang berasal dari satu kota kecil di pulau yang dikenal dengan bentuknya menyerupai huruf “K”. Dimana saat ini saya berdiri pada satu sudut provinsinya, tepatnya di Provinsi Sulawesi Tengah, kota Toli-toli.

Udara di kota tersebut saya akui, memang sangat panas. Dibanding dengan kota Surabaya, kota ini tak kalah panasnya. Bedanya kota metropolitan kedua tersebut berudara panas, sebab terik matahari di atas ubun-ubun kepala ditambah dengan udara kotor dari padatnya kendaraan dan gedung-gedung yang menjulang  tinggi berbahan kaca, sedang kota kecil ini bukan karena hal itu. Selain karena mataharinya, udara panas dari laut yang terasa menggigit kulit.

Sejauh mata memandang, memang kota ini penuh pesona. Pegunungan tertata dengan indah dan hamparan laut terbentang dengan luasnya. Sungguh, jika pembaca berkunjung ke tempat ini akan banyak senyuman dan ketakjuban. Kali ini saya bukannya akan membahas tentang indahnya kota ini, nanti saja di lain cerita. Ini sekadar pembukaan.

Rabu (1/3) setelah aktifitas sehari yang melelahkan, kali ini ada seorang rekan yang mengajak untuk sejenak beristirahat menikmati udara segar sembari berjalan menuju persinggahan. Kami melewati sebuah tempat yang bisa dikata sederhana tapi indah. Tepatnya jalan Baru di sudut kota ini, terdapat tempat ngopi, ngopinya anak muda. Tempat ini buka mulai sore hingga malam hari. Walau tempatnya hanya sederhana dari dipan, tak pernah sepi dari pengunjung. Sebab yang disugguhkan adalah ciri khas dari kota ini.

wedang, kuliner, jahe, anget, susu, tradisional, nusantara, minuman jahe, minuman susu, toli-toli, sulawesi, sulawesi tengah, terpencil, kuliner, jalan-jalan, wisata, pantai, dermaga, laut, bukit, sareba, khas, dabu-dabu, rica, pedas, enak, nikmat, susu, ngopi, kopi, santai, sore, senja, baru,khas, pulau, traveling, pengalaman
Sareba (doc. Pribadi)
Terkenal dengan namanya “Sareba” minuman khas kota ini. Sejenis wedang jahe yang diseduh dengan susu. Jahenya sangat terasa di lidah, berbeda dengan minuman jahe yang pernah saya rasakan di Jawa, ada ciri khasnya sendiri. Ketika meminumnya, rasa susu yang bercampur dengan wedang jahe masih tertingggal nikmatnya di bibir. Sareba di kota ini selalu dihidangkan dengan pisang goreng dan tak lupa dengan rica-rica. Semua makanan yang disajikan di kota ini selalu disandingkan dengan rica-rica. Entah, makanannya manis ataupun asin selalu bersama rica-rica ataupun dabu-dabu.

wedang, kuliner, jahe, anget, susu, tradisional, nusantara, minuman jahe, minuman susu, toli-toli, sulawesi, sulawesi tengah, terpencil, kuliner, jalan-jalan, wisata, pantai, dermaga, laut, bukit, sareba, khas, dabu-dabu, rica, pedas, enak, nikmat, susu, ngopi, kopi, santai, sore, senja, baru,khas, pulau, traveling, pengalaman
Pesona Sareba (Dok. Pribadi)
Selain minumannya yang nikmat, tempatnya pun sangat memesona. Meminum sareba bersama pisang goreng lengkap dengan rica-rica, ditambah dengan ruangan terbuka berhadapan dengan lautan dan gunung, sungguh sangat memanjakan mata dan rasa. Tempat ini memang akan dirindu bagi tiap orang yang mengunjunginya. Sungguh ciamikkk.

Read More »

Minggu, 05 Maret 2017

Kuliner Mantap di (Pulau) Kota Kecil

Melakukan perjalanan di suatu kota ataupun menetap untuk melakukan kepentingan tertentu, tidak afdhol jika belum mengetahui ciri khas kota tersebut. Nah, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang makanan khas dari kota Toli-toli yang terletak di Sulawesi Tengah. Kota Toli-toli ini merupakan kota kecil yang sudah maju dari beberapa pulau kecil di Sulawesi Tengah. Sistem transportasi yang tertata bagus, mulai dari alat transportasi darat, laut, maupun udara. Bangunan sekolah yang sudah berjajar rapi mulai dari playgroup hingga perguruan tinggi. Dan beberapa aspek kehidupan lainnya.

Sebenarnya, bukan pertama kali saya datang ke kota ini, entah untuk kesekian kalinya, tak terhitung. Tapi tetap rindu dengan tempat-tempat yang ada di kota tersebut. Mungkin karena kota ini adalah tanah kelahiran saya dan sebab itu pula jika adanya suatu kepentingan yang harus dilakukan di kota tersebut, saya akan mengiyakan.  Sejauh mata memandang, kota ini dikelilingi oleh pegunungan dan laut yang apik nan indah. Berbeda dengan kota-kota di Jawa Timur yang pernah saya singgahi.

Ada salah satu jenis makanan yang wajib dicoba dari kota ini. Orang-orang menyebutnya “ambal”. Hati-hati kalau mendengar jenis makanan ini, sebab jika orang Jawa ke kota tersebut sering salah dengar dengan kata “hambal”. Penambahan huruf “h” salah besar dalam pemahamnnya, sebab keduanya berbeda jauh. Hambal dalam bahasa jawa merupakan sejenis tikar atau karpet, tapi ambal adalah sejenis makanan khas dari kota tersebut. Jika boleh dikatakan, di kota-kota besar terdapat jenis makanan yang dikenal pizza. Nah, ambal ini bisa juga disebut mini pizza khas kota Toli-toli yang rasanya akan mengalahkan rasa pizza.

kota, kuliner, traveling, jalan-jalan, wisata, tradisioanal, nusantara, makanan, makan, minum, minuman,ambal, hambal, sulawesi, sulawesi tengah, tungku, api, bara, panas, dabu-dabu, karpet, sambal, minyak, main, pizza, enak nikmat, toli-toli, daerah terpencil, subur, wajan, memasak, belajar, lalapan, pedas, jawa, siti muyasaroh
Kuliner Ambal (Doc. pribadi)
Ambal terbuat dari sagu yang didalamnya terdapat ikan-ikan kecil yang disebut cakalang. Cara membuatnya pun unik, dimasak diatas tungku api dengan penggorengan menggunakan wajan kecil  yang terbuat dari tanah liat. Karena dimasak tanpa menggunakan minyak jadi aman untuk orang yang memiliki kolesterol tinggi. Jika sudah matang, ambal akan disajikan dengan jenis lalapan yang disebut daun kemangi. Tidak ketinggalan dabu-dabu, sejenis sambal yang pedihnya bukan main. Jika orang yang suka pedas, mantap untuk mencoba jenis makanan ini. Jadi, selamat berkulineria sang Pejalan...
Read More »

Sabtu, 25 Juni 2016

Chatingan Sama Orang Luar Negeri, Sambil Belajar Lagi

Katanya, belajar bahasa yang bisa membuat kita mahir secara langsung salah satunya dengan pergi ke negaranya. Waduh, akomodasi kesananya itu yang belum cukup, masih ditabung. He-he-he. Mau khursus lagi pun, sepertinya tidak sekarang. Masih ada yang lebih diprioritaskan.  Lantas diam saja? Menunggu wangsit datang tiba-tiba, mendadak pintar berbahasa. Waaaa.. cara dari mana itu?. Sepengetahuan saya sampai saat ini, orang bisa karena mau dan berani untuk belajar. Kalau ada cara yang instan, ikutan wes. Bagi-bagi dong caranya.

Saya mempunya impian. Suatu hari nanti saya bisa berkunjung ke negara tetangga. Berinteraksi, berdiskusi, saling berbagi pengalaman, dan berkawan dengan mereka. Sama siapa saja yang penting dalam arah kebaikan. Kalau saya mau flashback, sejak kecil lingkungan sudah pake bahasa Jawa, asli Suroboyo-an. Keluarga pun saklek tulen Suroboyo-an ya meski terkadang campur sih dengan bahasa Nasional, Indonesia. Keluar SD, saya move on. Allah kasih Jalan kepada saya untuk sekolah di lingkungan yang benar-benar baru. Dan menurut saya ya.. yang masih super cupu abis anak kampungan, terus di sekolahin sama anak-anak kotaan. Apalagi lingkungan sekolah yang menerapkan 3 bahasa. Inggris, Arab dan pastilah bahasa Indonesia. Biuuhh, ampun ya.. Perubahan lingkungan yang menurut saya sangat drastis, mental usia kecil saya sedang diuji. Sampai-sampai seminggu selepas masuk sekolah tepar, sakit seminggu. Demam, panas tinggi-dingin. Orang tua tak tahu kenapa anaknya tiba-tiba sakit seperti ini. Suatu malam, saya cerita ke Ibu saya. Lingkungan Sekolah yang sangat baru itu. Yah.. curhatannya anak-anak SMP lah. Cerita panjang lebar kali tinggi. Dan Ibu hanya bisa mendengar saja. Beliau pun belum tahu seperti apa sekolah itu. Hanya kakak saya yang tiap kali riwa riwi ke sekolah, mengurus administrasi dan keperluan saat pendaftaran sekolah itu. Dari hasil curhatan itu, ternyata ibu cerita ke kakak. Memungkinkan kalau saya, sepertinya sedang shock berat. Kaget dengan sekolahnya yang saat itu. Putus asa. Apalagi, sempat saya keceplosan bilang sambil nangis belum kuat sekolah yang seperti itu.

Setelah mendengar cerita dari Ibu, Gak perlu menunggu lama. Saya di dudukkan sama kakak saya. Diberi wejangan-wejangan. Eh, nasihat lebih tepatnya. Yang membuat saya harus bangkit kembali. Nasihat apa itu??? Belum bisa dituliskan disini. Hanya saya dan kakak saya yang tahu. Hingga membuat saya berjanji demi... ha-ha-ha. Dan janji itu pun hingga saat ini masih saya perjuangkan untuk mewujudkannya. Yang jelas impian perubahan lebih baik untuk orang-orang yang saya cintai dan sayangi. Semua ada prosesnya yang penting berani untuk memulainya.

Hebatnya setelah peristiwa duduk bersama itu, saya tiba-tiba sembuh. Mungkin ini yang dibilang. Obat yang paling manjur itu ada pada keyakinan dari dalam hati. Oke, Saya berupaya untuk beradaptasi. Berusaha untuk belajar bahasa disana. Bekal bahasa Arab, okelah, dari keluarga bisa. Indonesia, bisalah. Eittt tapi untuk satu bahasa ini. Inggris. Tepok jidat saya. Basic-nya sangat kurang sekali. Tapi, lingkunganlah yang membantu saya. Apalagi guru-guru di SMP buaik puooll. Telaten ngajari saya. Saya masih ingat betul, reading time setelah makan siang saya gunakan untuk pergi ke beliau. Yang lain baca-baca di kelas atau di perpus. Saya nongkrong di kantor. Ha-ha-ha. Belajar pengucapan kata. Seiring waktu saya bisa menyamai mereka. Mengerti dengan berbahasa inggris-an.

Dilanjut, berbahasa inggris untuk saat ini. Sangatlah penting. Biar gak kalah sama orang-orang hebat diluar sana. Ketika kita bisa dan mengerti. Jangan diendapkan saja, digunakan saat kita perlu saja. Misal, saat mencari jurnal-jurnal berbahasa inggris atau mencari referensi-referensi lain dengan menggunakan bahasa asing ini. Harus selalu di-update.

Ada satu cara. Mudah kita lakukan. Diawal kali saya buka tulisan ini. Belajar bahasa yang manjur ya di negaranya. Terus kalau belum bisa melalang kesana? Bagaimana? Tenang, banyak cara menuju Roma. Eh, ganti-ganti. Banyak cara menuju Mulyosari, Surabaya. Lebih dekat dengan rumah saya. Mari bersilaturrahmi. Balik, dilanjut dulu. Ramadhan tahun ini kadang saya gunakan untuk ber-chating ria saat jam-jam istirahat dari aktifitas saya. Chatingan-nya bukan sama orang yang satu bangsa dan satu bahasa. Melainkan dengan orang di negeri seberang sana. Say hello, say something, and share info. Tujuannya hanya satu. Belajar dan selalu update bahasa kita. Learning by doing. Khususnya di conversation saya. Dari sini. Secara tidak langsung kita akan terpancing untuk mengatakan sesuatu. Contoh, saya ada seorang teman yang berasal dari Malaysia. Namanya nur sabrina. Kebetulan dia muslim, umurnya masih 20 tahun, saya tanya saja suasana ramadhan di sana. Budaya, adat dan apa saja yang berhubungan dengan bulan ramadhan. Kan pasti beda dengan indonesia. Sedikit-sedikit saya pun minta diajari bahasa mereka. Lain dengan teman yang ada dari India, umurnya sudah 45 tahun seorang bapak-bapak. Setahu saya, budaya dan adat di India cukup buanyak. Apalagi India juga salah satu negara yang mendapatkan penghargaan sebagai negara yang memiliki budaya terbanyak di dunia menurut UNESCO selain Indonesia. Nah, saya angkat topik ini ke pembicaraan. Apalagi saat ini di Indonesia sedang demam-demanya dengan virus perfilman India. Terus adalagi teman dari Algeria seorang electical engineer, London dan negara-negara lainnya. Dan serunya dari beberapa teman yang saya ajak berbicara ini akan mengirimkan kartu lebaran kepada saya nanti. He-he-he

Banyak situs chating yang beredar untuk menambah teman sekaligus belajar dengan mereka. Kalau saya sendiri. Menggunakan situs www.hospitalityclub.org dan www.interpals.net. Alangkah indahnya jika kita manfaatkan akun-akun media sosial untuk hal-hal yang positif. Selamat belajar dan berproses. ^ ^
Read More »

Jumat, 01 Januari 2016

Ini Perbedaan Antara Kakak dan Adek

Bulan Mei 2014 lalu, tepat tanggal 9 hari jumat sekitar pukul sembilanan malam. Aku masih ingat betul dengan kejadian itu. Pengalaman pertama kali bagiku, yang memberikan pelajaran berharga. Saat itu aku usai mengantarkan teman ke stasiun Bungur Sidoarjo. Perjalanan pulang menuju rumah tiba-tiba sebuah sepeda motor dari arah yang berlawanan menghantam sepeda motorku. Tak sempat menghindar, sebab begitu cepatnya motor itu melintas dan tubuh pun jatuh bersama motor seketika juga. Sejanak gelap, tapi sebelumnya aku sempat melihat motor yang menghantam diri ini masih bisa berdiri dan dengan cepat lari.

Lebih tepatnya aku korban tabrak lari.

Beruntung tempat kejadian itu tepat di depan supermarket yang terletak di sekitar Semolowaru, dekat sekali dengan kampus Institut swasta di Surabaya bagian timur. Orang-orang disekitar supermarket langsung berkerumunan menolong. Suara ribut yang terdengar berhasil membukakan mataku. Ada seorang Bapak yang membantu membukakan helm yang ku kenakan. Kaca helm itu sudah pecah. Sepeda motorku, entah bagaimana keadaannya. Yang terpenting saat itu adalah keselamatan diri dulu. Ada juga dua orang perempuan yang membantuku berdiri dan memapah tubuh ini ke teras supermarket itu. Awalnya, aku akan langsung dibawah ke rumah sakit oleh kedua perempuan itu. Sebab darah dari kening, tulang pipi, tangan, dan kaki keluar dengan begitu saja. Tapi, aku menolak dan meminta tolong untuk membawaku ke pinggir jalan dulu. Tujuannya, agar aku merasa tenang dulu. Karena setelah adanya kecelakaan, pastilah kondisi tubuh tiba-tiba kejang. Kaget. Gemetar. Dan apalah namanya.

Aku melihat satu dari perempuan itu tergopoh-gopoh dari dalam supermarket dengan membawa sebotor air minum, tisu dan kapas untuk membersihkan darah yang mengalir di area wajahku. Setelah kondisiku sedikit tenang. Kedua perempuan itu, kembali memintaku untuk dibawa ke rumah sakit. Takut-takut ada kenapa-kenapa denganku. Baik sekali kedua perempuan itu. Namun, kembali ku tolak. Karena saat itu aku masih merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Malahan aku ingin pulang.

Nah, ketika aku berpikir pulang. Pastilah orang-orang rumah akan kaget, panik dan heboh. Apalagi kalau nenek dan ibu. Mereka orang pertama pastinya  yang khawatirnya minta ampun dan aku tak mau membuat mereka khawatir. Apalagi dengan melihat kondisiku yang masih berdarah-darah belum sepenuhnya dibersihkan. Saat itu juga aku putuskan untuk menghubungi salah satu teman dekatku yang ada di kampus dan urung menghubungi orang-orang rumah. Setelah mendengar bahwa aku kecelakaan intonasi suara dari HP berubah menjadi panik. Padahal saya menyampaikan kabar itu dengan hati-hati dan nada seperti tak terjadi apa-apa. Santai.

Akhirnya tak lama kemudian dia datang menjemput dan hendak mengantarkanku pulang. Lagi-lagi aku menolak. Meminta tolong untuk malam itu sementara waktu aku menginap dikosnya. Sambil membersihkan darah yang ada pada luka serta memimjam bajunya untuk berganti pakaian. Dia membolehkanku menginap malam itu, setelah saya memberinya penjelasannya.

Oke, sepanjang malam itu. Aku menahan sakit bukan main. Tapi tak berbicara kepada temanku itu. Tidurnya pulas sekali, aku tahu dia lelah dengan segala aktivitasnya di kampus. Saat adzan subuh terdengar, cepat-cepat ku hubungi kakak laki-laki ku. Aku tahu, dia kaget. Dan segera mungkin menjemput dikosan temanku itu. Dengan tertatih aku keluar dari kosan dan menghampiri kakakku. Aku tahu dari raut mukanya, ia hendak marah. Kenapa tak langsung menghubunginya malam itu. Tapi urung setelah melihat kondisiku dan mencoba memberikan pengertian. Bahwa saya tak mau membuat orang rumah khawatir dan memintanya untuk jangan memberi tahu nenek dan ibu dulu. Biarkan mereka tahu setelah saya sampai di rumah nanti. Setelah itu, aku langsung dibawa kerumah sakit terdekat. Dan menurut saja apa kata dokter atau perawat yang merawatku saat itu.

Sekarang beralih ke kejadian yang serupa, dua hari lalu sejak aku menuliskan cerita ini. Namun, kejadian itu bukan menimpaku lagi, melainkan adikku.

Kecelakan itu, terjadi ketika sebuah mobil hendak berputar kekanan. Tapi posisinya ia menyalakan reting lampu secara mendadak setelah motor adikku berada tepat di sebelah kanannya dengan kecepatan stabil tak menguranginya. Dan mobil itu secara tiba-tiba berbelok. Terjadilah kecelakan itu. Ia sempat lompat dan terguling-guling diatas terotoan. Orang-orang yang tahu kejadian itu langsung menghentikan mobil itu dan kata adik saya memang mobil itu awalnya tidak akan malarikan diri. Justru berhenti menolongnya. Disisi lain ternyata ada salah satu adek didikku yang pernah aku ajari ketika aku masih duduk di bangsu SMA mengetahui kejadian itu. Ia langsung berlarian menuju rumahku dan memberikan kabar itu langsung kepada ibu yang saat itu baru pulang dari musholah di seberang jalan. Sedang aku yang baru tiba di rumah setelah melakukan aktivitas sepanjang hari langsung beranjak lari menuju lokasi kejadian. Dan meminta adik perempuanku menjaga ibu untuk tetap di rumah.  Ternyata tempat kejadian sudah bubar. Dan pertanyaanku saat itu, dibawa kemana adikku tadi.

Aku mencoba tenang dulu, menghubungi kakak yang sedang bersama istri dirumahnya. Sepertiku sebelumnya, kakak langsung menuju tempat kejadian dan hanya menemukan aku seorang dengan wajah yang masih penuh kekhawatiran tapi mencoba tenang dengan tetap dalam pikiranku, adikku dibawa ke rumah sakit mana?

Akhirnya kakak memintaku untuk pulang. Ia yang akan mencari adikku dirumah sakit terdekat dari rumah dan lokasi kejadian itu. Mengabari ibu, menenangkan dan menjaganya. Sambil menunggung kabar dari kakak.

Tak lama kemudian, kakak mengabari bahwa adik sekarang berada di rumah sakit UNAIR dan menjalani perawatan. Serta tak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya luka-luka ditangan, kaki dan dijahit jari manis dan kelingkingnya. Setelah itu pulang.

Esoknya, seperti biasa. Adikku ini suka bercerita, ngelucu, dan bercanda. Serta kemampuannya untuk mengendalikan orang dan situasi cukup handal. Saat sore hari saya pulang kerumah. Aku duduk berjajar dengannya. Bertanya kejadian semalam. Dan dia tertawa. Sedang aku heran melihatnya, ada apa.

Saat itu, dia menceritakan sedetail mungkin kejadian malam itu. Saat posisinya terjatuh sampai dia dibawa ke rumah sakit. Setelah itu saya ikutan tertawa mendengarnya. Urung kasihan karena melihat perban-perban di tangan, kaki, jari dan memar yang terlihat. Bagaimana tak tertawa. Dalam kondisinya tertabrak saja ia masih bisa berpikir bagaimana bagusnya posisi ia terjatuh. Saat diberdirikan orang, ia bilang sandalnya lepas. Hanya satu yang terlihat, itu pun satu meter dari posisinya jatuh. Sedang satunya lagi tak tahu kemana. Meminta orang mencarinya dulu dan menolak langsung dibawah ke rumah sakit. Padahal dia sudah berdarah-darah. Sebab sandal itu sandal kesayangan. Katanya.

Kemudian saat dirumah sakit. Dia membuat ke empat perawat yang ada diruangan tertawa dan pusing sebab ulahnya yang jahil menggoda perawat itu. Hingga orang yang menabrak, kakak dan istrinya pun tertawa melihat tingkahnya. Urung juga kasihan. Katanya, kalau tidak jahil sakitnya terasa. Jadi dibuat tertawa. Supaya tak tegang. Ia menyapa perawat-perawat itu dengan sebutan yang berbeda-beda. Sesuai dengan raut wajah menurut pendangannya. Diantaranya mbak cantik, mbak putih, mbak bundar dan satu lagi mbak tante. Saat salah satu perawat yang dipanggilnya mbak tante selesai membius jari-jarinya dengan menyuntiknya sebelum dijahit, perawat itu mencubit jarinya, memastikan bahwa biusnya sedang bekerja dan bertanya kepada adekku. “terasa?” iapun menjawab “terasa.”.

Kemudian perawat tersebut menyuntiknya sekali lagi, dan bertanya kembali “terasa?”

“Iya, terasa, mbak tante.”

Wajah perawat itu terheran dan menyuntiknya lagi. Dan bertanya lagi “ terasa?”

“terasa, mbak tante.”

Raut wajah perawat itu katanya semakin terheran. Mencubitnya lagi "sakit?"

Dengan tampang polosnya adekku menjawab “tidak sakit,” Sontak perawat itu menarik napas panjang sambil memegang kepalannya. Tiga perawat lainnya tertawa.

“Oala, mas-mas. Tidak bilang dari tadi. Saya sudah menyuntik sampai tiga kali,” perawat itu sebal karena ulah adekku.

“mbak tante, tanyanya bukan sakit tadi, tapi terasa.” Jawab adekku sambil tertawa.

 Inilah perbedaan itu, ulah sikap adek dan kakak. Silakan disimpulkan dan dimengerti sendiri. Karena aku disini hanya ingin menuliskan sepotong dari kisah perjalanan hidupku. Antara aku sebagai kakak dan adekku yang sudah memasuki tahap akhir dari masa SMAnya.

Dulu, kecelakaan yang aku alami adalah motor dengan motor. Tabrak lari lagi. Tapi adekku, motor dengan mobil. Orang yang menabrak berbaik hati bertanggung jawab menolong pula. Tapi bukan itu perbedaannya. Tapi cara bersikap untuk menghadapi kondisi yang terjadi. Aku sayang kepada keluargaku, khususnya ibu dan nenekku. Dengan cara menyembunyikan kejadian hingga benar-benar tenang. Baru aku berbicara. Padahal itu adalah cara yang salah. Dengan menunda kabar itu kepada orang-orang rumah. Tapi adekku, belajar dari kejadianku terdulu dan mengubah situasi yang tegang, panik, dan prihatin. Menjadi terkendali dan berhasil menenangkan dengan celotehan jahil dan menyenangkan.

Sebagai penutup, yang menyentuh hatiku untuk menuliskan kejadian ini adalah pernyataannya setelah bercerita sore tadi. “mbak, aku belajar tentang rasa sayang dari kekhawatiran dan kecemasan dari mbak dulu pas kecelakaan.”

Entah pembaca menganggap kata terakhir itu seakan-akan berlebihan atau tidak. Tapi itulah katanya.
Read More »

Kamis, 01 Januari 2015

Notes Baru

Aih... sudah luama banget vacum di dunia blog. hening, senyap, mengihilang entah kemana. Rindu dengan catatan-catatan baru yang di ditinggalkan disini. Kini mencoba untuk mengukir kembali. Assalamualaikum...

Memetik Hikmah Warna-warni Kehidupan

(Oleh May Khakasa)

Terik matahari menyengat, tepat di ubun-ubun kepala. Kaki menerjang panasnya jalan menuju laboratorium yang berdiri kokoh diantara bangunan tua yang didirikan entah tahun berapa. Yang pasti, sudah lama. Terlihat dari dinding-dindingnya sudah ada sedikit retak, cat warna tembok yang kusam, atap yang menyisakan guratan kuning akibat bekas bocoran hujan atau tetesan AC  yang menggantung tinggi di dinding , serta terlihat beberapa sarang laba-laba menggantung dipojokan ruangan. Laboratorium itu, terdapat satu kotak ruang yang dipisahkan oleh sebuah sekat dari triplek berukur sekitar 4x3 meter. Tidak lain, ruangan itu adalah ruang kepala laboratorium yang didesain dengan beberapa komputer berjajar guna mencari data bagi mahasiswa yang membutuhkan.

Awalnya hanya berisi tiga orang perempuan. Berbicara memecahkan sebuah pertanyaan yang aku ajukan kepadanya, tidak lain mereka adalah kedua senior ku yang menguasai ilmu tentang wind turbin , bagaimana tidak? Karena kebetulan mereka yang sedang mengambil tugas akhir tentang wind turbin tahun ini. Satu persatu pertanyaan terjawab dan satu persatu pula seniorku pergi dari ruang, menyisakanku sendiri didepan komputer.

Tak beberapa lama, salam terdengar dari balik pintu dan seniorku yang lainnya satu persatu masuk. Memecah kesepian dalam lab. Mereka berbincang, bercanda, berdiskusi dan hal lainnya dilakukan dalam laboratorium tersebut. Mengisi waktu sengggang untuk menanti pergantian mata kuliah selanjutnya. Wajar lah, anak teknik yang notabennya banyak cowok, biasanya nongkrong di warung tapi ini nongkrongnya di lab. Itu karena mereka telah bersandang sebagai asisten lab yang harus setiap saat ke lab, entah itu hanya mampir atau apalah.

Aku bukan mempermasalahkan tentang gurauan, diskusi atau apa yang mereka lakukan di lab. Bukan urusanku, aku sebagai junior sekaligus mahasiswi yang hanya sekedar singgah untuk bertanya tentang beberapa hal sudah terjawab dan hanya bisa memerhatikan tingkah seniorku. Toh, disini aku bukan asisten lab seperti mereka atau kenal dekat dengan mereka, hanya sekedar tahu mereka. Tidak kurang dan tidak lebih. Tapi, ketika aku mendengar celetukan salah satu seniorku yang asyik mengobrol, lantas entah kenapa tangan yang tadinya asyik mengutak-atik komputer jadi berhenti. Ini bukan kesengajaanku untuk mendengar pembicaraan mereka. Tapi ini memang tidak disenganja. Suruh siapa mereka lantang juga berbicara, dengan ukuran laboratorium yang tidak begitu luas semua orang akan mendengarnya. Termasuk aku yang duduk dari ruang berjajar komputer itu, yang hanya dipisahkan dengan sekat dari trilek. Anggap saja dia si A dan si B, ada lagi sih sebenarnya mungkin bisa C, D dan seterusnya. Tapi menurutku pembicaraan si A dan si B ini yang cukup menarik dalam benakku, hingga menghentikan aktifitasku tadi. Setidaknya begini secuil potongan percakapan mereka. Ini aku sudah membahasakan ke bahasa indonesia agar semua bisa mengerti, karena mereka bicara campuran dengan bahasa jawa, maklum tempat kuliahku ini di Surabaya, yang notabennya kampus cukup bergengsi di Surabaya ataupun di tanah air ini­­­­_sedikit berlebihan.

“Cari kerja besok itu yang enakan lah, gaji yang besar,” kata si A.

“apa sih kamu ini,” jawab si B sambil menyennggol lengan si A

“iya dong, gaji besar biar bisa ngidupin istri yang enak,”

“wah, ga gitu juga,” singkat si B menjawab.

“Kamu mau, nikahin perempuan yang seperti si putri (sebut saja ini), iyalah pasti kamu mau nikah sama si Putri, kan enak, nanti kalau misal gajimu sebulan hanya 1 juta, dia juga tetap nurut saja sama kamu, dia nanti toh juga tetap bilang ‘bersyukur mas gaji segini’ iyakan?” si A menambah percakapannya dan sontak tertawa mengejek.

Jawaban si B hanya tersenyum sambil,” apa sih,”

Masih ada percakapan selanjutnya yang hanya bisa aku dengar sambil tak enak hati rasanya, seperti diaduk-aduk dan ingin segera keluar dari ruangan itu.

Sungguh, ini adalah benar-benar kejadian nyata yang aku dengar dan saksikan sendiri. Percakapan para pria yang mungkin tak sadar ada seorang perempuan di balik kamar ruang yang hanya berukuran 4x3 meter itu. Yang membuatku tak enak hati adalah, kenapa obyek omongannya harus dengan si Putri itu? Kamu tahu, siapa yang mereka bicarakan si putri itu? Dia adalah benar-benar wanita yang sholehah_benar-benar menurutku, aku saja sampai ingin seperti dia, sungguh sangat mulia sekali dia.

Si Putri adalah seorang muslimah yang berparas sangat cantik, berkerudung panjang, bertutur kata lembut, berakhlak baik, berpengetahuan akan agama dan ilmu teknik. Prestasinya tidak hanya dalam dunia keteknikan atau sains namun dalam nilai agamapun dia unggul.  Kebetulan juga ia adalah seniorku sendiri.

Sepanjang perjalananku setelah keluar dari ruangan itu, aku berpikir, “ Ya Allah, apakah semua yang ada di dunia itu, harus di nilai dari materi? buat apa manusia banting tulang hanya sekedar demi hasrat duniawi saja, tak mementingkan bagaimana indahnya bersyukur itu, padahal jika selalu merasa bersyukur, Allah akan menjauhkan perasaan dalam diri dari yang namanya kurang dan akan selalu merasa cukup, semoga mbak si Putri akan selalu Engkau lindungi dari orang-orang yang haus akan kepuasan, kekuasaan dan kebanggaan duniawi seperti itu”

Aku bukan seorang alim ulama atau seorang yang cakap dengan ilmu agamanya, aku masih belajar sampai sekarang. Aku hanya tahu, salah satu properti kebanggaan dari seorang suami kelak adalah memiliki makmum yang sholehah, yang bisa menjadi perhiasan di dunia dan menjadi jalan menuju surga bagi sang suami. Aku pun bukan seorang yang mungkin lebih baik dari orang-orang yang lainnya, toh, aku juga belum pernah merasa bagaimana menikah dan kehidupan rumah tangga itu. Hanya saja yang aku tahu dan belajar dari seorang kakak yang sudah beranak pinak_walau masih satu dan menggemaskan. Setelah menikah, rumah tangga itu dibangun dengan dasar kebaikan dan satu sama lain berusaha untuk membuat rumah tangganya lebih baik karena keduanya telah memutuskan untuk saling bersama dan mencintai.
Read More »