Selamat Datang | Muyasaroh Notes | Bersama Saling Berbagi dan Menjadi Pembelajar yang Hebat Muyasaroh Note: inspirasi story
Tampilkan postingan dengan label inspirasi story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi story. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2018

Berinspirasi Melalui Sepasang Kekasih dari Omah Padma

Inspirasi berkelana menyumbang datangnya berkah. Satu kalimat telah tertuang dalam perjalanan mengisi waktu dalam hidup.

Bagi pembaca yang belum mengenal penulis, yuk kenalan dulu melalui tulisan ini. Sok sekali ya, tidak papa. Biar tidak membosankan, awali saja dengan perkenalan. Tapi, jangan mulai mengkerutkan dahi ya. Jangan sampai rela meninggalkan note ini. Benar?? He-he-he.

Yuk lah, dilanjut. Ada sebab penulis buka note ini dengan kalimat pertama di atas. Saat ini, bisa dibilang sedikit sekali orang-orang yang peduli dengan pelestarian budaya dan pengembangannya. Padahal, jika kita tahu ada banyak pintu-pintu berkah yang bisa dibuka. Salah satunya di Omah Padma. Tempat yang dimiliki oleh dua inspirator yang penulis temui minggu ini (16/3) bersama teman-teman penulis dari FLP Surabaya yaitu bunda Wina Bojonegoro dan suaminya seorang pelukis handal.

omah padma, wina bojonegoro, travel writing, rekreasi menulis, pasuruan, dusun semambung, muyasaroh, inspirasi, berbagi, sosial, ruang budaya, literasi, tradisional, pelukis, lukisan, galeri
Omah Padma (Doc. pribadi)
Omah padma berada di Pasuruan. Tempatnya ditengah-tengah perkampungan Dusun Semambung. Omah padma, merupakan omah impian bunda dan suami yang mulai gaung dibicarakan akhir-akhir ini. Di sini, ada dua yang menjadi fokusan adanya Omah Padma. Pertama tentang literasi dan kedua rumah budaya. Ada rasa berbeda ketika kaki telah menginjak di tempat ini. Ketika bunda mulai bercerita tentang adanya omah ini. Bunda sangat tulus dengan impian membesarkan Omah Padma bersama suami dengan pemberdayaan orang-orang desa. Sekaligus memberikan edukasi dan pengetahuan kepada warga sekitar.

omah padma, wina bojonegoro, travel writing, rekreasi menulis, pasuruan, dusun semambung, muyasaroh, inspirasi, berbagi, sosial, ruang budaya, literasi, tradisional, pelukis, lukisan, galeri
Ruang Berbagi Bersama Bunda Wina Bojonegoro (Doc. Pribadi)
Melalui omah ini, akan ada generasi-generasi yang melestarikan budaya di negeri ini yang mulai termakan oleh zaman. Menumbuhkan dan menjaga kecintaan terhadap kekayaan dan kearifan lokal ditengah-tengah kemalutnya tradisi asing dalam negeri sendiri. Jika kita menganalisa, adanya Omah Padma di tengah desa ini sangatlah menginspirasi. Perjuangan bunda dan suami untuk menghidupkan omah ini sangatlah romantis. Pemberdayaan masyarakat dan pendekatannya agar diterima oleh masyarakat sekitar sangat luar biasa. Bukan pendapatan berupa materi yang beliau harapkan. Justru pemberdayaan secara tulus untuk perkembangan masyarakat di desa ini yang mesti kita pelajari bagi pemuda yang bau kencur seperti penulis ini. Di Omah Padma ada beberapa edukasi juga yang diberikan bunda secara cuma-cuma. Seperti pelatihan kerajinan bagi warga, les bahasa inggris bagi anak-anak desa, dan pembinaan lainnya. Bunda tidak akan segan mendatangkan pelatih yang unggul dari kota Surabaya untuk kemajuan warga desanya yang mau berkembang. Ini loh, pelajaran dari kehidupan yang secara langsung didapat penulis melalui sepasang kekasih yang juga seorang penulis dan pelukis. Semoga setiap perjalanan dan impian bunda dan suami membawa berkah bagi kemaslahatan orang banyak. Semangat berkarya ^ ^
omah padma, wina bojonegoro, travel writing, rekreasi menulis, pasuruan, dusun semambung, muyasaroh, inspirasi, berbagi, sosial, ruang budaya, literasi, tradisional, pelukis, lukisan, galeri
Ruang Inspirasi Kegiatan Omah Padma (Doc. Pribadi)
omah padma, wina bojonegoro, travel writing, rekreasi menulis, pasuruan, dusun semambung, muyasaroh, inspirasi, berbagi, sosial, ruang budaya, literasi, tradisional, pelukis, lukisan, galeri
Galeri Lukisan Omah Padma (Doc. Pribadi)


Read More »

Kamis, 22 Maret 2018

Sarasehan Rakyat untuk Menuju Desa Berdaya

Malang (10/3) tepatnya di Candi Kidal, Desa Kidal Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang sedang ramai didatangi warga sekitar desa. Kali ini, desa yang menyimpan banyak potensi ini akan kedatangan orang-orang yang dinanti lama oleh warga. Acara Sarasehan yang diadakan oleh warga desa Kidal ini dimotori oleh Rumah Inspirasi Angrek KCB untuk menjadikan desa candi sebagai desa yang berdaya. Dengan mengusung tema yang sangat menarik untuk disimak, yaitu ”Peran Masyarakat Termarginal dalam Pemberdayaan dan Pengentas Kemiskinan dengan Program BUMDES” acara ini dihadiri oleh Bapak Profesor Dr. Haryono, MA. Phd (Ketua Tim Penasehat Mentri Desa), Dr. H. Rendra Kresna (Bupati Malang), Ibu Sapto Yuli Isminarti (Tokoh Pengentas Kemiskinan) dan Ibu Sri Suhartini, STP. M.Env. Mgt. Phd (Perwakilan dari LPPM Universitas Brawijaya Malang).
 
sarasehan, warga, marginal, candi, candi kidal, tumpang, malang, kota, profesor haryono, bupati malang, DH rendra kresna, Sapto yuli isminarti, sri suhartini, LPPM, universitas brawijaya, desa, desa berdaya, pengentas kemiskinan, pejabat, suara rakyat, bumdes, pertanian, peternakan, alam, potensi
Sarasehan Rakyat (Doc. Pribadi)
Acara sarasehan ini dimulai pada pukul 13.00 WIB yang diawali dengan sebuah tari tradisional asli dari Candi Kidal yaitu tari Gamdea. Setelah sambutan yang hangat dari Bapak Kelurahan sebagai wakil dari warga desa dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Bupati Malang. Antusias warga untuk memenuhi acara ini sangat tinggi. Mulai dari berbagai kalangan kelompok pertanian, peternakan, ibu-ibu PKK desa, warga sekitar, pejabat kabupaten malang, perangkat desa dan mahasiswa.

Sarasehan ini sengaja diadakan untuk menjaring aspirasi warga desa terhadap kemajuan desa Kidal. Sebab banyak potensi alam yang ada di sekitar candi namun belum maksimal dalam pengolahannya. Misalkan, di desa Kidal ini banyak menghasilkan buah Nangka dan duku. Tapi sayang, fakta dilapangan, harga dari penjualan buah di desa tersebut sangat murah dan belum maksimalnya pengelolahan yang dapat meningkatkan nilai jual. Selain itu cara produksi dan bentuk merketing dari adanya pengelolahan potensi alam tersebut dibutuhkannya pendampingan dan perhatian dari berbagai kalangan, baik pemerintah, akademisi dan pemuda di sekitar.

sarasehan, warga, marginal, candi, candi kidal, tumpang, malang, kota, profesor haryono, bupati malang, DH rendra kresna, Sapto yuli isminarti, sri suhartini, LPPM, universitas brawijaya, desa, desa berdaya, pengentas kemiskinan, pejabat, suara rakyat, bumdes, pertanian, peternakan, alam, potensi
Menjaring Aspirasi Rakyat (Doc. Pribadi)
Dalam acara ini, setelah aspirasi disuarakan oleh warganya sendiri, prof. Dr. Haryono mengajak seluruh warga desa untuk bersama-sama bangkit dan bergerak. Sebab perubahan terbesar ada dan berasal dari diri warga desanya. Dan sebagai penutup dari acara sarasehan tersebut profesor juga mengajak seluruh elemen desa, pemuda, akademisi dan pemerintah untuk berkolaborasi dan siap untuk menerima pengajuan desa agar kehidupan warga desa disekitar candi lebih baik lagi , baik dari segi potensi alam, lingkungan, pariwisata dan budaya lokal.

sarasehan, warga, marginal, candi, candi kidal, tumpang, malang, kota, profesor haryono, bupati malang, DH rendra kresna, Sapto yuli isminarti, sri suhartini, LPPM, universitas brawijaya, desa, desa berdaya, pengentas kemiskinan, pejabat, suara rakyat, bumdes, pertanian, peternakan, alam, potensi
Sambutan dari Warga Desa dengan Tari Gamdea (Doc. Pribadi)
Read More »

Jumat, 15 Desember 2017

Bagaimana Kabarmu, Negeri?

Ketika mentari pagi mulai mengintip dari gelapnya. Raga ini bersapa dengan sapaan yang tak asing ditelinga “Selamat pagi... “. Namun, selalu berganti dengan “Semangat pagi...“ karena hidup harus terus bersemangat. Tak peduli pagi, siang ataupun malam. Bagaimana kabar negeri ini? negeri yang sudah 23 tahun saya tinggali. Semoga selalu baik-baik saja. 

Saya dengar Indonesia sekarang terus melakukan pembangunan. Apalagi pembangunan untuk daerah-daerah tertinggal sedang panas-panasnya dikampanyekan melalui berbagai akun web dan media sosial. Benar tidak ya? Atau hanya sekadar mimpi yang merasuk dalam tidur? Jika memang itu semua benar-benar adanya.  Sungguh luar  biasa program-program di negeri ini. Berarti, bisa dikatakan bukan sekedar berita hoax yang membumi. Pun upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk pemerataan kesejahteraan dari pulau terpencil (khususnya) bukan sekedar orasi belaka dari para pejabat-pejabat yang duduk di kursi kekuasaan negeri ini. 

Saya sapa kembali, “Semangat pagi negeri...” untuk kedua kalinya saya tidak akan menanyakan kembali kabar negeri ini. Akan tetapi, saya hendak mengajukan pertanyaan satu saja, “Tak inginkah kau bertanya kabar dari Si Penulis surat ini?”. Baiklah, mungkin negeri ini sedang sangat sibuk. Tak apalah saya saja yang ingin ditanya dan diperhatikan. Tapi, memang benar, saat ini saya memerlukan sosok yang ingin mendengarkan cerita saya untuk diperhatikan. 

Beberapa waktu yang lalu, saya melakukan sebuah perjalanan. Tepatnya suatu ekspedisi untuk menyapa negeri ini di ujung Pulau Jawa yang sangat dekat dengan Kalimantan. Yang mana tempat itu jarang sekali dijamah oleh pendatang. Tempatnya pun di daerah laut Jawa yang banyak kabar dengan mitos aneh-aneh terkait pulau ini. Pulau yang katanya terletak di antara Segi Tiga Bermuda. Pulau sangat kecil yang sewaktu-waktu bisa saja hilang sebab air laut yang menghempaskannya. Belum lagi akses untuk menuju ke tempat itu yang hanya mampu dijangkau dengan sebuah kapal perintis. Selamat datang di Pulau Masalembu. 
  
Masalembu, pemuda, Ekepedisi Nusantara Jaya, ENJ, Rintara Jatim, Rintara Jaya, Pulau terpencil, 3T, pengabdian, pendidikan, sekolah, impian, surat, coret, ekonomi, pelatihan, kapal, perintis, perak, sanus
Pulau Masalembu
Ada lagi satu pulau yang unik, jarang sekali orang mau menjamahnya setelah Pulau Masalembu. Jangan bayangkan adanya dermaga yang siap menjadi tempat bersandarnya kapal seperti halnya Pulau Masalembu. Justru, petulangan akan berlanjut setelah kapal perintis bersandar di pulau tersebut. Dengan sebuah perahu nelayan yang siap mengantarkan penumpangnya dari kapal perintis menuju pulau itu. Destinasi membelah lautan bebas dengan waktu dua jam perjalanan (jika kondisi cuaca bagus) menuju pulau tersebut, Pulau Masakambing. 

Mungkin ada, sebagian orang beranggapan saya ini bodoh. Kehidupan di kota Metropolitan kedua di negeri ini, jauh lebih nyaman ketimbang harus meleburkan diri bersama masyarakat di pulau yang sangat jauh dengan yang namanya kenyamanan. Listrik yang hanya menyala kala malam hari, dan setelah pukul 11 malam serasa tak ada kehidupan lagi. Kenyamanan rumah dengan kamar yang beralaskan kasur empuk beralih dengan sebuah rumah penduduk atau polindes sederhana dan tidur hanya beralas seadanya. Sinyal internet yang kapan saja bisa dinikmati berbalik 180 derajat. Jangankan sinyal internet, sinyal telpon saja hanya ada di satu titik, itupun kadang ada kadang pun tak ada. Sekolah yang sangat penting bagi pendidikan setiap orang, biasanya dapat dengan mudah menjumpainya di perkotaan, berpindah hanya satu sampai dua sekolah yang bisa ditemui. Padahal jika memandang wajah anak-anak pulau, mereka penuh dengan harapan dan semangat untuk berpendidikan tinggi sama halnya dengan anak-anak diperkotaan. Ah, sepertinya saya sudah terlalu banyak bercerita namun belum berkenalan. Hanya saling bersapa tanpa  tahu, kapan surat ini berbalas pada si penulis ini. Sudahlah tak apa, nama hanya sekedar nama, nanti pun kau akan tahu sendiri. 

“Semangat pagi negeri Indonesia...” kembali saya menyapa untuk kesekian kalinya. Kali ini saya tidak akan menanyakan kabar negeri ini, atau pun bercerita untuk diperhatikan. Sebab saya hanya ingin menyampaikan kerinduan akan negeri yang katanya indah ini. Sungguh saya sangat rindu. Sudah banyak yang bercerita ataupun menuliskan hal-hal tentang negeri ini yang membuat saya jenuh dan ingin rasanya segera bergerak, beraksi, bukan hanya sekedar mengumbar omong kosong tanpa bukti yang nyata untuk benar-benar melihat keindahan indonesia, senyum masyarakat yang menantikan kehidupan yang lebih baik. Pembangunan yang diimpi-impikan banyak orang. Khususnya untuk mereka yang hidup di tempat terpencil. 

Saya tahu, suatu kesejahteraan yang diharap-harapkan banyak orang diluar sana tidak dapat terwujud dengan seorang diri. Butuh kerjasama untuk saling menopang satu sama lainnya. Ini sekedar corat-coret yang dijejakkan disini. Agar pemuda ingusan satu ini senantiasa menjadi pembelajar dan melebur bersama untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat negeri ini dari apa yang bisa dilakukan. Memenuhi kepuasan batin sendiri diluar pekerjaan yang selama ini digelutinya. Memberikan kebermanfaatan diri kepada banyak orang melalui satu media yang digandrungi oleh pemuda-pemuda di Indonesia yang diharapkan setelah kembalinya dari pulau-pulau terpencil akan ada jejak yang ditinggalkan untuk peradaban selanjutnya melalui Rintara Jaya Jawa Timur. Adakah yang membersamai keinginan dan harapan ini? Dan akankah terwujud impian itu jika hanya segelintir manusia saja yang memimpikannya? Entahlah. Waallahu’alam.

Teras Rumah 06.01 WITA
Toli-toli, 14 Februari 2017
Muyasaroh
Pemuda gila yang merindukan perubahan

Masalembu, pemuda, Ekepedisi Nusantara Jaya, ENJ, Rintara Jatim, Rintara Jaya, Pulau terpencil, 3T, pengabdian, pendidikan, sekolah, impian, surat, coret, ekonomi, pelatihan, kapal, perintis, perak, sanus
Dermaga Masalembu

Read More »